PART FOUR, Ramadhan Hari keduabelas
A.
Temukan
sumber kekesalan
Setiap orang sangat memerlukan pendapat
orang lain dalam kehidupannya karena dia adalah makhluk sosial. Dalam
kenyataannya tidak jarang muncul berbagai konflik maupun gesekan – gesekan yang
terjadi dalam proses kita berinteraksi dengan masyarakat. Kita mencoba untuk out
of the box, make a better day dari waktu ke waktu.
Di bawah ini akan saya sajikan
beberapa alasan yang menyebabkan seseorang itu mengalami kejengkelan atau istilah saya sih “galbar atau gagal sabar”.
Cek ya, siapa tahu ada di antara
sahabat yang pernah mengalami hal seperti ini :
1. Orang tertawa atas pederitaan kita.
Ya alloh rasanya sejuta rasa deh. Gimana
mau enak kalau ga dienakkan. Misalnya saat kita berjalan dan tiba - tiba kita
terpeleset di depan kerumunan teman – teman kita, wah malu bin mo ngumpet
kemana gitu ya. Eh sudah kita jatuh bahkan tak jarang tawa orang—orang di
sekitar bertambah volumenya ada yang sampai maaf ngakak.com dan guling-guling.
Bukannya bantuan yang kita dapat malahan kita jadi tontonan gratis.
Astagfirloh.
2. Saat ada orang yang senaknya saja
tidur di kendaraan umum atau fasilitas umum
Rasanya nyebelin banget nih orang.
Sudah tahu ada fasilitas publik untuk digunakan bersama, lha dia malah asyik tidur
nggak pakai permisi lagi. Pernah mengalami seperti itu? Nano – nano deh rasanya, mau negur nggak enak apalagi
sampai marah wah nggak berani meski dia sudah mengambil hak kita alhasil
disimpan saja khawatir terjadi pertikaian yang tidak perlu dan gak penting (
wah naik level lagi jadi gondok dalam hati, ckckck).
3. Ketika ada yang ngawasi kerjaan
kita.
Duh kalau yang satu ini seperti arum
jam berhenti berdetak ya rasanya. Amsyong deh, seperti kita makan sesuatu da
nada yang beracun terasa pahit semuanya. Padahal yang kita lakukan juga untuk
perusahaannya misalnya, untuk kepentingan semua misalnya. Namun ada
pengecualian lho jika misalnya dalam kegiataan dakwah, nah khusus yang ini kita
kudu bisa memisahkan antara “baper” atau
kepentingan umat. Misalnya saatada kegiatan baksos dan butuh keputusan
cepat dalam menyalurkannya sementara yang kita kerjakan belum kelar. Di sini
pentingnya akhlak di majukan. Meski kesannya seperti digurui oleh teman atau
orang lain namun itu untuk kebaikan. Taka pa-apalah, so far so good .
4. Risih saat ada yang bising atau
ngobrol terus di bioskop.
Di ruang private seperti itu
biasanya ada saja tak tahu atau bahkan sok tahu tentang kesudahan dari sebuah
film yang di tonton. Nah lo, kita sudah duduk manis dan menyiapkan bekal (cieileh
apaan ya) eh ada yang di samping, atau di belakang ngobrol kagak berhenti macam
kereta api yang stasiunnya belum dibangun alias nggak berhenti – berhenti.
Kalau seperti itu ya dibuat enjoy saja sahabat kalau nggak bisa penyakit
lainnya.
5. Orangnya ngomong terus nggak ada
stasiunnya alias nggak berhenti kapan selesai ngomongnya.
Hampir sama seperti poin nomor 4
hanya saja yang ini benar-benar di luar kontrol. Filter penyaringan dirinya
tipis banget sehingga ruang bagi komunikasi dengan orang lain terganggu dan
tersendat karena “sang orator” dadakan mendominasi pembicaraan beserta alurnya
juga.
6. Saat kita antre ada orang yang terlalu
dekat dekat kita bahkan dia nafas kita juga kena imbasnya.
Percaya deh bagi yang sudah pernah
mengalami, asli nggak enak banget. Apalagi orangnya tidak merasa bahwa perilaku
yang dimunculkannya sudah membuat kita nggak nyaman.
7. Suka nyeletuk dan interupsi terus
atau jeda kata “apa”.
Orang yang seperti ini bisa jadi
ingin dianggap memperhatikan atau perhatian dengan pihak yang diajak berbicara,
sayangnya kontak mata yang ditamplkan atau gesture tubuhnya menyebabkan kita
jadi sebal. Mengapa demikian? Sebabnya adalah mimic seseorang saat berbicara
itu mengalir saja tanpa di tutupi tanpa di rekayasa, sehingga saat ada yang
menyela konsentrasinya jadi terganggu dan akan terjadi pengulangan kata-kata
yang tidak perlu akibatnya “pembicaraan garing alias membosankan”. Karena hanya
sepihak saja yang bersemangat menyampaikan informasi, sementara yang lain acuh
tak acuh.
“Dan Rosulullah SAW tidak pernah
memotong pembicaraan orang lain”
(HR.Tirmidzi)
8. Ada yang bermuka masam di depan kita
dan sering mengeryitkan dahi
Rosululloh SAW dalam sebuah hadist “ Tabassamuka fii
wajhi akhiika shodaqoh”
diriwayatkan oleh HR.Tirmidzi yang artinya “ Senyummu di
hadapan saudaramu adalah sedekah”. Jadi jika kita sayang dan cinta rosul, yuk
sahabat kita terapkan dalam pola hidup sehari – harinya ya.
9.
Ketika
orang bilang”kan sudah aku kasih tahu” untuk menunjukkan betapa cerdasnya dia.
Persis telenovela atau cerita drama yang dilebih-lebihkan ketika ada yang
bersikap seperti itu. Seperti wajar
biacara demikian apalagi jika yang pernah disampaikan, diusulkan menjadi idenya
kemudian menjadi kenyataan yang terbukti benar adanya kemudian oramg tersebut
berkata demikian, wuuuih gondok tingkat dewa kali ya sahabat. Sudah kita merasa
bersalah karena hasil tidak sesuai harapan dan ekpektasi eh ditambah pula
dengan komentar nyinyir yang semakin memojokkan dan menyudutkan kita. Ini tidak
boleh di anggap remeh. Langsung di sampaikan akan menjadi lebih baik daripada
memendam yang berakibat fatal.
10.
Saat
ada yang phubbing
Istilah ini mulai dikenal di era zaman now padahal sejak 6
tahun lalu sudah mulai digagas dan diteliti oleh ahli bahasa, sosiolog, dan
budayawan yang berkumpul di Sidney University,Australia. Mereka menemukan dan
melahirkan kata baru yaitu phubbing atau tindakan seseorang yang sibuk sendiri
dengan gadget di tangannya, sehingga tidak lagi perhatian kepada orang yang
mengajak bicara atau bahkan yang ada di dekatnya alias tidak berusaha untuk
membuka komunikasi dengan sekitarnya.
Contoh seperti saat menunggu antrean panggilan di bank, bertemu
dengan kawan lama eh setelah ”say hello dan basa basi sebentar “ lanjut saling
diam dan jemari ambil smartphone mulai deh berselancar di dunia maya. Bagi
sebagian orang mungkin itu hal biasa tapi sebagian lagi dianggap masalah serius
dan jika hal itu tidak diupayakan untuk arif bijaksana bersikap maka tidak menutup
kemungkinan kelak akan ada sekolah khusus bicara dengan orang lain.
Karena kita tidak anti teknologi apalagi gadget namun setidaknya
hargai orang – orang di sekitar kita dengan cara meneladani akhlak Rosululloh
SAW sebagai panutan kita. Kiranya itu dulu ya sahabat yang bisa saya bagikan
hari ini.
Ramai orang mencari kayu
Di bawah pohon cuacanya redup
Bersunguh-sungguhlah mencari ilmu
Karena ilmu dicari sebagai penyuluh
hidup
Semoga bermanfaat. See you next
time.
Wassalamu’alaikum warohmatullohi
wabarokatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar