Minggu, 03 Juni 2018

BAW#DAYS12sumber


PART  FOUR, Ramadhan Hari keduabelas
  
  A. Temukan sumber kekesalan
Setiap orang sangat memerlukan pendapat orang lain dalam kehidupannya karena dia adalah makhluk sosial. Dalam kenyataannya tidak jarang muncul berbagai konflik maupun gesekan – gesekan yang terjadi dalam proses kita berinteraksi dengan masyarakat. Kita mencoba untuk out of the box, make a better day dari waktu ke waktu.
Di bawah ini akan saya sajikan beberapa alasan yang menyebabkan seseorang itu mengalami kejengkelan atau  istilah saya sih “galbar atau gagal sabar”.
Cek ya, siapa tahu ada di antara sahabat yang pernah mengalami hal seperti ini :
1.      Orang tertawa atas pederitaan kita.
Ya alloh rasanya sejuta rasa deh. Gimana mau enak kalau ga dienakkan. Misalnya saat kita berjalan dan tiba - tiba kita terpeleset di depan kerumunan teman – teman kita, wah malu bin mo ngumpet kemana gitu ya. Eh sudah kita jatuh bahkan tak jarang tawa orang—orang di sekitar bertambah volumenya ada yang sampai maaf ngakak.com dan guling-guling. Bukannya bantuan yang kita dapat malahan kita jadi tontonan gratis. Astagfirloh.
2.      Saat ada orang yang senaknya saja tidur di kendaraan umum atau fasilitas umum
Rasanya nyebelin banget nih orang. Sudah tahu ada fasilitas publik untuk digunakan bersama, lha dia malah asyik tidur nggak pakai permisi lagi. Pernah mengalami seperti itu? Nano – nano  deh rasanya, mau negur nggak enak apalagi sampai marah wah nggak berani meski dia sudah mengambil hak kita alhasil disimpan saja khawatir terjadi pertikaian yang tidak perlu dan gak penting ( wah naik level lagi jadi gondok dalam hati, ckckck).  
3.      Ketika ada yang ngawasi kerjaan kita.
Duh kalau yang satu ini seperti arum jam berhenti berdetak ya rasanya. Amsyong deh, seperti kita makan sesuatu da nada yang beracun terasa pahit semuanya. Padahal yang kita lakukan juga untuk perusahaannya misalnya, untuk kepentingan semua misalnya. Namun ada pengecualian lho jika misalnya dalam kegiataan dakwah, nah khusus yang ini kita kudu bisa memisahkan antara “baper” atau  kepentingan umat. Misalnya saatada kegiatan baksos dan butuh keputusan cepat dalam menyalurkannya sementara yang kita kerjakan belum kelar. Di sini pentingnya akhlak di majukan. Meski kesannya seperti digurui oleh teman atau orang lain namun itu untuk kebaikan. Taka pa-apalah, so far so good .
4.      Risih saat ada yang bising atau ngobrol terus di bioskop.
Di ruang private seperti itu biasanya ada saja tak tahu atau bahkan sok tahu tentang kesudahan dari sebuah film yang di tonton. Nah lo, kita sudah duduk manis dan menyiapkan bekal (cieileh apaan ya) eh ada yang di samping, atau di belakang ngobrol kagak berhenti macam kereta api yang stasiunnya belum dibangun alias nggak berhenti – berhenti. Kalau seperti itu ya dibuat enjoy saja sahabat kalau nggak bisa penyakit lainnya. 
5.      Orangnya ngomong terus nggak ada stasiunnya alias nggak berhenti kapan selesai ngomongnya.
Hampir sama seperti poin nomor 4 hanya saja yang ini benar-benar di luar kontrol. Filter penyaringan dirinya tipis banget sehingga ruang bagi komunikasi dengan orang lain terganggu dan tersendat karena “sang orator” dadakan mendominasi pembicaraan beserta alurnya juga.
6.      Saat kita antre ada orang yang terlalu dekat dekat kita bahkan dia nafas kita juga kena imbasnya.
Percaya deh bagi yang sudah pernah mengalami, asli nggak enak banget. Apalagi orangnya tidak merasa bahwa perilaku yang dimunculkannya sudah membuat kita nggak nyaman. 
7.      Suka nyeletuk dan interupsi terus atau jeda kata “apa”.
Orang yang seperti ini bisa jadi ingin dianggap memperhatikan atau perhatian dengan pihak yang diajak berbicara, sayangnya kontak mata yang ditamplkan atau gesture tubuhnya menyebabkan kita jadi sebal. Mengapa demikian? Sebabnya adalah mimic seseorang saat berbicara itu mengalir saja tanpa di tutupi tanpa di rekayasa, sehingga saat ada yang menyela konsentrasinya jadi terganggu dan akan terjadi pengulangan kata-kata yang tidak perlu akibatnya “pembicaraan garing alias membosankan”. Karena hanya sepihak saja yang bersemangat menyampaikan informasi, sementara yang lain acuh tak acuh.
 “Dan Rosulullah SAW tidak pernah memotong pembicaraan orang lain”
(HR.Tirmidzi)
8.      Ada yang bermuka masam di depan kita dan sering mengeryitkan dahi
Rosululloh SAW  dalam sebuah hadist “ Tabassamuka fii wajhi akhiika shodaqoh”
diriwayatkan oleh  HR.Tirmidzi yang artinya “ Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah”. Jadi jika kita sayang dan cinta rosul, yuk sahabat kita terapkan dalam pola hidup sehari – harinya ya.
9.      Ketika orang bilang”kan sudah aku kasih tahu” untuk menunjukkan betapa cerdasnya dia. Persis telenovela atau cerita drama yang dilebih-lebihkan ketika ada yang bersikap seperti itu. Seperti  wajar biacara demikian apalagi jika yang pernah disampaikan, diusulkan menjadi idenya kemudian menjadi kenyataan yang terbukti benar adanya kemudian oramg tersebut berkata demikian, wuuuih gondok tingkat dewa kali ya sahabat. Sudah kita merasa bersalah karena hasil tidak sesuai harapan dan ekpektasi eh ditambah pula dengan komentar nyinyir yang semakin memojokkan dan menyudutkan kita. Ini tidak boleh di anggap remeh. Langsung di sampaikan akan menjadi lebih baik daripada memendam yang berakibat fatal.
10.  Saat ada yang phubbing
Istilah ini mulai dikenal di era zaman now padahal sejak 6 tahun lalu sudah mulai digagas dan diteliti oleh ahli bahasa, sosiolog, dan budayawan yang berkumpul di Sidney University,Australia. Mereka menemukan dan melahirkan kata baru yaitu phubbing atau tindakan seseorang yang sibuk sendiri dengan gadget di tangannya, sehingga tidak lagi perhatian kepada orang yang mengajak bicara atau bahkan yang ada di dekatnya alias tidak berusaha untuk membuka komunikasi dengan sekitarnya.
Contoh seperti saat menunggu antrean panggilan di bank, bertemu dengan kawan lama eh setelah ”say hello dan basa basi sebentar “ lanjut saling diam dan jemari ambil smartphone mulai deh berselancar di dunia maya. Bagi sebagian orang mungkin itu hal biasa tapi sebagian lagi dianggap masalah serius dan jika hal itu tidak diupayakan untuk arif bijaksana bersikap maka tidak menutup kemungkinan kelak akan ada sekolah khusus bicara dengan orang lain.
Karena kita tidak anti teknologi apalagi gadget namun setidaknya hargai orang – orang di sekitar kita dengan cara meneladani akhlak Rosululloh SAW sebagai panutan kita. Kiranya itu dulu ya sahabat yang bisa saya bagikan hari ini.

Ramai orang mencari kayu
Di bawah pohon cuacanya redup
Bersunguh-sungguhlah mencari ilmu
Karena ilmu dicari sebagai penyuluh hidup
Semoga bermanfaat. See you next time.
Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel 9 Let Go