Senin, 04 Juni 2018

BAW#DAYS19RESOLUSICINTA

     

PART  EIGHT, Ramadhan Hari kesembilanbelas

RESOLUSIKAN CINTAMU
» إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ, لِلْمُتَمَسِّكِ فِيْهِنَّ يَوْمَئِذٍ بِمَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرُ خَمْسِيْنَ مِنْكُمْ. قَالُوْا: يَا نَبِيَّ اللَّهِ, أَوَمِنْهُمْ؟ قَالَ: بَلْ مِنْكُمْ «
“Sesungguhnya umat sesudah kalian akan mengalami hari-hari (sulit) yang membutuhkan kesabaran. Bagi orang yang konsisten (berpegang teguh pada ajaran Islam) sebagaimana yang kalian perbuat, akan mendapatkan balasan lima puluh kali lipat dari kalian.” Para sahabat bertanya, “Wahai Nabi Allah, apakah kelipatan pahala itu dari mereka?.” Beliau menjawab, “(Bukan), tetapi dari kalian.” (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh syekh al-Bani dalam kitab “Silsilah hadits-hadits shahih” no: 494 dan 957).

Sahabatku,
Kegoncangan hati dan kebimbangan jiwa sudah sering kita alami, baik itu anak kecil, remaja, ibu rumah tangga,karyawan, kepala keluarga (baik ayah maupun single parent), penduduk biasa maupu orang kaya. Tidak ada yang luput dari yang namanya ujian.Untuk mengatasi hal itu diperlukan ketetapan   keteguhan hati agar tikungan tajam tidak membuat kita mudah terkejut dan belokan serta tanjakan juga turunan tetap membuat kita stabil, tidak oleng ke kanandan ke kiri dan akhirnya mengambil  jalan pintas yang akan di sesali. 

Ada istilah yang secara terminologi disebut dengan tsabat atau (di jalan iman) berarti; ketetapan dan keteguhan hati menapaki jalan Ilahi guna meraih tujuan, berkorban demi tersebarnya nilai-nilai iman, komitmen terhadap prinsip agama dan istiqamah di atas manhaj Rabbani sampai ia menemui Rabb-nya. Tsabat di sebut jugadengan “gigih menapaki jalan hidayah, terus komitmen dengan tuntutan jalan kebenaran ini dan  bersungguh-sungguh mendaki puncak ketaatan.

Sahabat, masih ingat dengan kisah Bilal bin Rabah yang disiksa majikannya.
Ketika itu ia menjadi budak dari Umayyah bin Khalaf. Sewaktu Umayyah mendengar bahwa Bilal telah memeluk Islam, maka dia membuat berbagai macam penyiksaan yang tiada tara. Mengalungi leher Bilal dengan tali yang kuat, lalu dia memerintahkan anak-anak kecil untuk mengaraknya berkeliling bukit di Mekkah.

Leher Bilal membilur karena bekas dari jeratan tali itu. Karena memang Umayyah mengikatkan tali tersebut dengan kuatnya. Bukan hanya sebatas itu saja penyiksaan yang dialaminya, pernah di suatu siang yang sangat terik membakar kulit, Umayyah melemparkannya ke padang sahara, kemudian meletakkan batu panas di atas dadanya, kemudian menarik kedua tangannya dengan sekuat tenaganya diiringi dengan pukulan dahsyat tak terperi.Ya Robb tak terbayangkan betapa pedihnya, namun saat ini kita juga bisa melihat anak – anak Gaza di Palestina, Rohingya di Myanmar, Aleppo di Suriah, sebagian kecil India. Mereka di jajah tidak bebas merdeka, bahkan tidak sempat merasakan yang namanya jengkel atau gelisah yang ada duka lara berkepanjangan. Namun mereka tetap tsabat teguh pendirian tidak goyah memeluk Islam sebagai keyakinan.  
  
Meskipun demikian berat siksaan yang dialaminya, namun ke-istiqamahan dan ketegaran Bilal tak goyah sedikitpun. Bibirnya di tengah siksaan tetap melantunkan kalimat suci, “Ahad, Ahad.” Sampai akhirnya Abu Bakar membeli Bilal dari tangan Umayyah, lalu memerdekakannya.
Ketika Rasulullah s.a.w menyaksikan beratnya siksaan yang mereka alami, beliau hanya mampu memberikan untaian kata hiburan yang mengandung khabar gembira :

» صَبْرًا يَا آلَ يَاسِرٍ فَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّة «

“Bersabarlah duhai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga.”
Kemudian Abu Jahal menancapkan tombaknya pada kehormatan Sumayyah, hingga wanita tegar itu meraih syahadah. Sumayyah r.a adalah awwalu syahidatin fi al-Islam (wanita muslimah pertama yang mati syahid di jalan Islam).
Abu Fulaikah mengalami siksaan yang berbeda, ia bernama asli Aflah, budak dari bani Abdi Ad Dar, ia diikat kedua kakinya dengan ikatan yang kuat, lalu dia diseret di atas padang sahara nan tandus.
Lain dengan apa yang dialami Utsman bin Affan setelah ia masuk Islam, pamannya menyelubunginya dengan tikar dari daun kurma, lalu mengisapinya dari bawahnya.
Bukan hanya itu saja perlakuan Quraisy terhadap kaum muslimin. Bahkan mereka ada yang memakaikan pakaian besi, kemudian melemparkannya di bebatuan yang panas membakar kulit.
Daftar orang-orang yang disiksa karena ke-Islaman mereka masih banyak dan panjang serta mengerikan. Siapapun yang diketahui masuk Islam, pasti ia akan mendapatkan siksaan yang sangat mengerikan.

Sahabatku,
Kisah-kisah sahabat di atas hanya sekedar pengingat, bahwa keyakinan yang kita imani dalam hati, terucap dengan lisan dan kita buktikan dengan amal nyata dalam realita kehidupan kita, memerlukan penjagaan dan pemeliharaan semaksimal kemampuan kita. Agar iman kita tak lekang disapa hawa panas, dan tak lapuk diguyur hujan. Tidak terpengaruh dengan pergantian musim.
Ujian hidup, ibarat garam dalam bumbu masakan. Bisa kita bayangkan sayur gudeg Yogya tanpa garam. Ayam goreng tanpa garam dan seterusnya.
Ujian hidup yang menyapa kita, jika kita hadapi dengan sabar dan tsabat, maka ia akan membantu kita meraih kedewasaan iman dan mencapai kematangan ruhani.
Namun sebaliknya, jika kita tak sabar dalam menghadapi ujian hidup berupa kemiskinan, kegagalan dalam membangun bisnis, terpuruk dalam usaha, sakit mendera tubuh, kepergian orang-orang dekat, celaan orang-orang yang jauh dari petunjuk, kesempitan hidup yang menghimpit, kedukaan yang mendera jiwa dan yang senada dengan itu. Maka kita tidak lulus dalam menghadapi ujian-Nya.
Demikian pula jika kita tidak tsabat dalam menerima anugerah-Nya berupa tubuh yang selalu prima, kelapangan dalam rezki, karir yang terus meroket, popularitas yang tak pernah meredup, jabatan yang semakin mengkilap, selalu sukses dalam mengembangkan usaha dan yang seirama dengan itu. Namun kita tidak dapat mengembangkan makna syukur, jiwa yang semakin subur dan akal yang penuh tafakkur, maka kita telah merelakan diri terlempar dari kafilah orang-orang yang tsabat.

Sahabatku,
Mulai hari ini dan seterusnya, mari kita belajar tsabat dalam menjalani ujian hidup, sabar dalam menghadapi ujian-Nya, tegar dalam mempertahankan hidayah-Nya. Agar kita mendapat balasan lima puluh kali lipat dibandingkan pahala yang Allah berikan kepada para sahabat, generasi terbaik umat ini.Karena Rasulullah merindukan kita, umat akhir zaman yang tidak mengenal beliau di zamannya namun mampu mengimani Islam secara kaffah dan berani untuk menunjukkan rasa sayangnya, cintanya dan rindunya berjumpa dengannya.
     
Semangat Berbenah .
Wallahu a’lam bishawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel 9 Let Go