PART EIGHT, Ramadhan Hari kesembilanbelas
RESOLUSIKAN CINTAMU
» إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ, لِلْمُتَمَسِّكِ فِيْهِنَّ يَوْمَئِذٍ بِمَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرُ خَمْسِيْنَ مِنْكُمْ. قَالُوْا: يَا نَبِيَّ اللَّهِ, أَوَمِنْهُمْ؟ قَالَ: بَلْ مِنْكُمْ «
“Sesungguhnya umat sesudah kalian akan
mengalami hari-hari (sulit) yang membutuhkan kesabaran. Bagi orang yang
konsisten (berpegang teguh pada ajaran Islam) sebagaimana yang kalian perbuat,
akan mendapatkan balasan lima puluh kali lipat dari kalian.” Para sahabat
bertanya, “Wahai Nabi Allah, apakah kelipatan pahala itu dari mereka?.” Beliau
menjawab, “(Bukan), tetapi dari kalian.” (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh
syekh al-Bani dalam kitab “Silsilah hadits-hadits shahih” no: 494 dan 957).
Sahabatku,
Kegoncangan hati dan kebimbangan jiwa sudah sering kita alami, baik itu anak kecil, remaja, ibu rumah tangga,karyawan, kepala keluarga (baik ayah maupun single parent), penduduk biasa maupu orang kaya. Tidak ada yang luput dari yang namanya ujian.Untuk mengatasi hal itu diperlukan ketetapan keteguhan hati agar tikungan tajam tidak membuat kita mudah terkejut dan belokan serta tanjakan juga turunan tetap membuat kita stabil, tidak oleng ke kanandan ke kiri dan akhirnya mengambil jalan pintas yang akan di sesali.
Kegoncangan hati dan kebimbangan jiwa sudah sering kita alami, baik itu anak kecil, remaja, ibu rumah tangga,karyawan, kepala keluarga (baik ayah maupun single parent), penduduk biasa maupu orang kaya. Tidak ada yang luput dari yang namanya ujian.Untuk mengatasi hal itu diperlukan ketetapan keteguhan hati agar tikungan tajam tidak membuat kita mudah terkejut dan belokan serta tanjakan juga turunan tetap membuat kita stabil, tidak oleng ke kanandan ke kiri dan akhirnya mengambil jalan pintas yang akan di sesali.
Ada istilah yang secara terminologi disebut
dengan tsabat atau (di jalan iman) berarti; ketetapan dan keteguhan hati
menapaki jalan Ilahi guna meraih tujuan, berkorban demi tersebarnya nilai-nilai
iman, komitmen terhadap prinsip agama dan istiqamah di atas manhaj Rabbani
sampai ia menemui Rabb-nya. Tsabat di sebut jugadengan “gigih menapaki jalan
hidayah, terus komitmen dengan tuntutan jalan kebenaran ini dan bersungguh-sungguh mendaki puncak ketaatan.
Sahabat, masih ingat dengan kisah Bilal bin Rabah
yang disiksa majikannya.
Ketika itu ia menjadi budak dari Umayyah bin Khalaf. Sewaktu Umayyah mendengar bahwa Bilal telah memeluk Islam, maka dia membuat berbagai macam penyiksaan yang tiada tara. Mengalungi leher Bilal dengan tali yang kuat, lalu dia memerintahkan anak-anak kecil untuk mengaraknya berkeliling bukit di Mekkah.
Ketika itu ia menjadi budak dari Umayyah bin Khalaf. Sewaktu Umayyah mendengar bahwa Bilal telah memeluk Islam, maka dia membuat berbagai macam penyiksaan yang tiada tara. Mengalungi leher Bilal dengan tali yang kuat, lalu dia memerintahkan anak-anak kecil untuk mengaraknya berkeliling bukit di Mekkah.
Leher Bilal membilur karena bekas dari jeratan
tali itu. Karena memang Umayyah mengikatkan tali tersebut dengan kuatnya. Bukan
hanya sebatas itu saja penyiksaan yang dialaminya, pernah di suatu siang yang
sangat terik membakar kulit, Umayyah melemparkannya ke padang sahara, kemudian
meletakkan batu panas di atas dadanya, kemudian menarik kedua tangannya dengan
sekuat tenaganya diiringi dengan pukulan dahsyat tak terperi.Ya Robb tak
terbayangkan betapa pedihnya, namun saat ini kita juga bisa melihat anak – anak
Gaza di Palestina, Rohingya di Myanmar, Aleppo di Suriah, sebagian kecil India.
Mereka di jajah tidak bebas merdeka, bahkan tidak sempat merasakan yang namanya
jengkel atau gelisah yang ada duka lara berkepanjangan. Namun mereka tetap
tsabat teguh pendirian tidak goyah memeluk Islam sebagai keyakinan.
Meskipun demikian berat siksaan yang
dialaminya, namun ke-istiqamahan dan ketegaran Bilal tak goyah sedikitpun.
Bibirnya di tengah siksaan tetap melantunkan kalimat suci, “Ahad, Ahad.” Sampai
akhirnya Abu Bakar membeli Bilal dari tangan Umayyah, lalu memerdekakannya.
Ketika Rasulullah s.a.w menyaksikan beratnya
siksaan yang mereka alami, beliau hanya mampu memberikan untaian kata hiburan
yang mengandung khabar gembira :
» صَبْرًا يَا آلَ يَاسِرٍ فَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّة «
“Bersabarlah duhai keluarga Yasir, karena
sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga.”
Kemudian Abu Jahal menancapkan tombaknya pada
kehormatan Sumayyah, hingga wanita tegar itu meraih syahadah. Sumayyah r.a
adalah awwalu syahidatin fi al-Islam (wanita muslimah pertama yang mati syahid
di jalan Islam).
Abu Fulaikah mengalami siksaan yang berbeda, ia
bernama asli Aflah, budak dari bani Abdi Ad Dar, ia diikat kedua kakinya dengan
ikatan yang kuat, lalu dia diseret di atas padang sahara nan tandus.
Lain dengan apa yang dialami Utsman bin Affan
setelah ia masuk Islam, pamannya menyelubunginya dengan tikar dari daun kurma,
lalu mengisapinya dari bawahnya.
Bukan hanya itu saja perlakuan Quraisy terhadap
kaum muslimin. Bahkan mereka ada yang memakaikan pakaian besi, kemudian
melemparkannya di bebatuan yang panas membakar kulit.
Daftar orang-orang yang disiksa karena
ke-Islaman mereka masih banyak dan panjang serta mengerikan. Siapapun yang
diketahui masuk Islam, pasti ia akan mendapatkan siksaan yang sangat
mengerikan.
Sahabatku,
Kisah-kisah sahabat di atas hanya sekedar pengingat, bahwa keyakinan yang kita imani dalam hati, terucap dengan lisan dan kita buktikan dengan amal nyata dalam realita kehidupan kita, memerlukan penjagaan dan pemeliharaan semaksimal kemampuan kita. Agar iman kita tak lekang disapa hawa panas, dan tak lapuk diguyur hujan. Tidak terpengaruh dengan pergantian musim.
Kisah-kisah sahabat di atas hanya sekedar pengingat, bahwa keyakinan yang kita imani dalam hati, terucap dengan lisan dan kita buktikan dengan amal nyata dalam realita kehidupan kita, memerlukan penjagaan dan pemeliharaan semaksimal kemampuan kita. Agar iman kita tak lekang disapa hawa panas, dan tak lapuk diguyur hujan. Tidak terpengaruh dengan pergantian musim.
Ujian hidup, ibarat garam dalam bumbu masakan.
Bisa kita bayangkan sayur gudeg Yogya tanpa garam. Ayam goreng tanpa garam dan
seterusnya.
Ujian hidup yang menyapa kita, jika kita hadapi
dengan sabar dan tsabat, maka ia akan membantu kita meraih kedewasaan iman dan
mencapai kematangan ruhani.
Namun sebaliknya, jika kita tak sabar dalam
menghadapi ujian hidup berupa kemiskinan, kegagalan dalam membangun bisnis,
terpuruk dalam usaha, sakit mendera tubuh, kepergian orang-orang dekat, celaan
orang-orang yang jauh dari petunjuk, kesempitan hidup yang menghimpit, kedukaan
yang mendera jiwa dan yang senada dengan itu. Maka kita tidak lulus dalam
menghadapi ujian-Nya.
Demikian pula jika kita tidak tsabat dalam
menerima anugerah-Nya berupa tubuh yang selalu prima, kelapangan dalam rezki,
karir yang terus meroket, popularitas yang tak pernah meredup, jabatan yang
semakin mengkilap, selalu sukses dalam mengembangkan usaha dan yang seirama
dengan itu. Namun kita tidak dapat mengembangkan makna syukur, jiwa yang
semakin subur dan akal yang penuh tafakkur, maka kita telah merelakan diri
terlempar dari kafilah orang-orang yang tsabat.
Sahabatku,
Mulai hari ini dan seterusnya, mari kita belajar tsabat dalam menjalani ujian hidup, sabar dalam menghadapi ujian-Nya, tegar dalam mempertahankan hidayah-Nya. Agar kita mendapat balasan lima puluh kali lipat dibandingkan pahala yang Allah berikan kepada para sahabat, generasi terbaik umat ini.Karena Rasulullah merindukan kita, umat akhir zaman yang tidak mengenal beliau di zamannya namun mampu mengimani Islam secara kaffah dan berani untuk menunjukkan rasa sayangnya, cintanya dan rindunya berjumpa dengannya.
Mulai hari ini dan seterusnya, mari kita belajar tsabat dalam menjalani ujian hidup, sabar dalam menghadapi ujian-Nya, tegar dalam mempertahankan hidayah-Nya. Agar kita mendapat balasan lima puluh kali lipat dibandingkan pahala yang Allah berikan kepada para sahabat, generasi terbaik umat ini.Karena Rasulullah merindukan kita, umat akhir zaman yang tidak mengenal beliau di zamannya namun mampu mengimani Islam secara kaffah dan berani untuk menunjukkan rasa sayangnya, cintanya dan rindunya berjumpa dengannya.
Semangat Berbenah .
Wallahu a’lam bishawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar