Selasa, 29 Mei 2018

BAW#DAY9Nanik


PART  FOUR, Ramadhan Hari kesembilan

Assalamu’alaikumussalaam,…. 

Alhamdulillah kita sudah memasuki ramadhan minggu kedua.Sebuah proses yang penuh berkah  telah kita lalui kemarin, masyaalloh keberkahan Allah SWT di ramadhan 10 hari pertama kita diberikanNya keberkahan yang melimpah ruah, jadi nikmat manakah yang kan kita dustakan. Masih berani coba – coba untuk kufur nikmat? Rasanya kok ndak mau ya sahabat., sayang banget puasa kita jika masih seperti itu. Pada kesempatan saat ini penulis ingin berbagi tentang pentingnya mengetahui berapa banyak kita sudah percaya dengan kemampuan dan kemauan diri sendiri. Semoga berkenan membacanya.

Sahabat  pernahkah merasakan ga percaya diri? Rasanya sebenarnya Percaya diri (self-co nggak enak nfidence) adalah kemampuan individu untuk dapat memahami dan meyakini seluruh potensinya agar dapat dipergunakan dalam menghadapi penyesuaian diri dengan lingkungan hidupnya. Jika kita sudah kehilangan rasa “PD” tersebut nanti akan memunculkan rasa yang lebih tidak mengenakkan lagi seperti mudahnya kita sakit hati akan sesuatu hal yang di luar ekspektasi kita misalnya, atau bisa muncul karena ketidakpuasan terhadap kinerja sendiri dan teman-temannya bahkan lingkungannya yang sesungguhnya akar permasalahan tersebut berasal dari adanya krisis kepercayaan diri yang lambat kita sadari keberadaannya.. Semua orang sebenarnya punya masalah dengan istilah yang satu ini. Ada orang yang merasa telah kehilangan rasa kepercayaan diri di hampir keseluruhan wilayah hidupnya, sehingga tidak mungkin atau hal yang mustahil ia bisa memiliki rasa percaya terhadap keputusan yang telah ia buat sendiri. Mungkin terkait dengan soal krisis diri, depresi, hilang kendali, merasa tak berdaya menatap sisi cerah masa depan, dan lain-lain. Ada juga orang yang merasapercaya diri dengan apa yang dilakukannya atau dengan apa yang ditekuninya. Kepercayaan diri termasuk kedalam aset atau investasi penting dalam diri untuk bisa melakukan kehidupan sehari-hari dengan baik meskipun anda tidak dalam lingkungan sosial yang baik.

            Hati yang sakit (barisan rasa iri hati, takabur, riya, ujub, sum’ah, hasad, taqtir dan panjang  
   angan – angan ). Salah satu penyumbang penyebab mudahnya jengkel hati kita adalah rombongan
   penyakit hati Penyakit hati itu sungguh berbahaya. Karena dampaknya sangatlah buruk seperti
·      Berdosa, terancam siksa di Neraka
·      Bisa mendatangkan adzab
·      Merugikan dan membuat risih orang lain
·      Kadang bisa membuat fisik sendiri juga jadi sakit
·      Dan masih banyak lagi, jadi sebisa mungkin kita jaga hati ya sahabat agar ke 6 barisan penyakit hati tidak nempel dan melekat dalam diri kita, Keep doa ya.
Dijelaskan dalam Al Qur’an tentang sebab dan akibatnya, di antaranya adalah :
1.      Takabbur yang berarti sombong. Astagfirloh! Sombong in yang  bisa jadi kita sadari atau tidak.  nyata-nyata  sudah meresahkan orang lain.
Misalnya, tatkala ada seseorang yang hendak menasehati kita, tapi kita malah menolaknya. Kita manganggap diri kita sudah benar, hebat, dan pintar; tidak ada yang salah sama sekali. Jadi tidak perlu mendengarkan apa-apa masukan dari orang lain. Karena orang lain itu kebanyakan salah, bodoh, dan tidak berguna. Padahal, bisa jadi itu hanya anggapan saja, bukan realita.
Sombong praktiknya bisa bermacam-macam. Namun intinya sombong itu adalah merendahkan orang lain dan menolak kebenaran.
Beberapa contoh orang-orang sombong yang dimusnahkan oleh Allah diantaranya adalah: Firaun, Raja Namrud, Qarun. Tentunya kita selalu berdoa agar tidak seperti mereka ya sahabat.
Allah SWT berfirman: Janganlah kalian berjalan di muka bumi dengan penuh kesombongan (QS al-Isra’ [17]: 37).
Allah SWT pun berfirman (yang artinya): Itulah kampung akhirat yang Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menghendaki kesombongan di muka bumi dan tidak pula membuat kerusakan. Akibat kebaikan itu adalah bagi kaum yang bertakwa (QS al-Qashash [28]: 83).
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk Surga orang yang di dalam kalbunya ada sikap sombong meski sebesar biji sawi.”
Bagi mereka yang mengidap penyakit sombong, sebenarnya cara agar sembuhnya agak mudah. Yaitu, cukup ‘buka mata’ saja untuk melihat fakta. Karena kerapnya orang yang sombong itu adalah mereka yang tak melihat fakta bahwa sejatinya dirinya tidak seperti yang ia khayalkan.
2.      Riya’ adalah melakukan ibadah, dengan niat ingin nantinya dipuji manusia, dan tidak berniat beribadah kepada Allah semata. Ada seseorang yang dia itu sholatnya jadi diperbagus dan diperpanjang hanya bila dilihat oleh orang lain. Supaya orang lain melihatnya. Kalau orang lain sedang tidak ada, maka sholatnya asal-asalan. Jadi seperti barang mainan saja ya sahabat.
Menurut Al-Hafidz Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Baari berkata: “Riya’ ialah menampakkan ibadah dengan tujuan dilihat manusia, lalu mereka memuji pelaku amalan itu”.
Menurut Imam Al-Ghazali, riya’ adalah mencari kedudukan pada hati manusia dengan memperlihatkan kepada mereka hal-hal kebaikan. Sahabat riya’ini bisa muncul kapan saja. Bisa saat sebelum beramal, ataupun saat sedang beramal.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”. (QS. Al-Baqarah: 264)
Dan ada lagi peringatan bagi kita yaitu
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat karena riya.” (QS. Al Maa’uun 4-6)
3.      Ujubadalah sikap mengagumi diri sendiri, karena merasa lebih dari yang lain. Berbangga diri gitu. Mungkin agak mirip dengan takabbur. Namun kalau ujub, belum tentu sambil berkeyakinan menolak kebenaran. Jadi sudah tahu ya sumbernya bila kita mudah dan sering sekali jengkel maka bisa jadi tuh salah satunya dari rasa yang ini nih.

Kalau menurut Imam Al-Ghazali, “Perasaan ‘ujub adalah kecintaan seseorang pada suatu karunia dan merasa memilikinya sendiri, tanpa mengembalikan keutamaannya kepada Alloh.” Meski tentu tidak selalu, namun bisa jadi seseorang itu menjadi ujub karena dipicu diantaranya oleh

  • mendapatkan banyak pujian-pujian dari orang lain

·   Banyak berhasil beberapa kali
·   Memiliki wewenang besar dan langka, yang bila dimanfaatkan akan sangat memudahkan yang biasanya sulit
·   Memiliki banyak ilmu pengetahuan
·   Terkenal
·   Fisik dan penampilannya menarik
Yang pasti, ujub itu terjadi bila telah berhenti dari berdzikir kepada Allah.
“Bagi Allah semua kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya.” (QS. Al Maidah: 120)
Rasulullah Saw bersabda, “Tiga hal yang membinasakan: Kekikiran yang diperturutkan, hawa nafsu yang diumbar, dan kekaguman seseorang pada dirinya sendiri.” (HR. Thabrani).

4.      Sum’ah asal Kata “sum’ah” berasal dari kata “samma’a”, yang artinya secara bahasa adalah “memperdengarkan”. Secara  istilah, sum’ah adalah sikap seorang muslim yang membicarakan atau memberitahukan amal shalihnya -yang sebelumnya tidak diketahui atau tersembunyi- kepada manusia lain, agar dirinya mendapatkan kedudukan dan/atau penghargaan dari mereka, atau mengharapkan keuntungan materi.
Dalam kitab Fathul Bari, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani ada mengetengahkan pendapat Izzudin bin Abdussalam yang membedakan antara riya dan sum’ah. Bahwa riya adalah sikap seseorang yang beramal bukan untuk Allah; sedangkan sum’ah adalah sikap seseorang yang menyembunyikan amalnya untuk Allah, namun ia bicarakan hal tersebut kepada manusia. Sehingga, menurut beliaiu, semua riya itu termasuk perbuatan tercela. Sedangkan sum’ah, bisa jadi termasuk amal terpuji jika ia melakukannya karena Allah dan untuk memperoleh ridha-Nya, dan tercela jika dia membicarakan amalnya di hadapan manusia.
Dalam Al-Qur’an Allah telah memperingatkan tentang sum’ah dan riya ini: “Hai orangorang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia…” (QS. Al-Baqarah : 264)
Rasulullah Saw juga memperingatkan dalam haditsnya, “Siapa yang berlaku sum’ah maka akan diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah dan siapa yang berlaku riya maka akan dibalas dengan riya.” (HR. Bukhari)
Diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah maksudnya adalah, diumumkan aib-aibnya di akhirat. Sedangkan dibalas dengan riya, artinya diperlihatkan pahala amalnya, namun tidak diberi pahala kepadanya.
5.      Hasad adalah merasa iri dengki pada kenikmatan dan kelebihan orang lain, disertai harapan agar semua itu hilang dari orang lain itu. Baik disertai harapan agar berpindah kepada dirinya, sehingga fokusnya hanya pada dirinya saja..
Hasad hukumnya haram, baik dalam hal duniawi atau hal agama.  Apalagi kalau hasad itu disertai tindakan, perbuatan, atau ucapan, langsung atau tidak langsung, agar kenikmatan/kelebihan itu hilang dari pemiliknya. Naudzubillah.
6.      Dengki .  Dengki merupakan suatu perbuatan yang memiliki dampak luas bagi jiwa dan raga kita. Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda: “Janganlah kalian saling dengki, jangan saling menipu, jangan saling menjauhi, dan jangan sebagian kalian membeli di atas pembelian yang lain.  Jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara.  Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzaliminya, enggan membelanya, membohonginya dan menghinanya.  Takwa itu di sini—Rasul menunjuk dada beliau tiga kali. Keburukan paling keterlaluan seseorang adalah ia menghina saudaranya yang Muslim.  Setiap Muslim atas Muslim lainnya itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR Muslim dan Ahmad)
7.      Taqtir  itu artinya terlalu pelit. Tidak mau mengeluarkan harta, padahal wajib.
       Imam Ibnu Jauzi dalam kitabnya at-thibbu ar-ruhi mendefinisikan kikir sebagai sifat
        enggan menunaikan kewajiban, baik harta benda ajau jasa.
Kikir ini termasuk penyakit hati yang sangat membahayakan. Apalagi kalau semakin banyak orang yang seperti ini, bisa-bisa semasyarakat akan hancur. Lantaran, tiap orang memang punya hak dari orang lain. Kalau itu ditahan, maka kebutuhan orang akan macet. Namun tentu alasan utamanya adalah karena bila kewajiban ditahan, maka Allah akan murka, sehingga sulit bahkan bisa saja mustahil mendapat berkah.
Rasulullah Saw bersabda: “Seburuk-buruk sifat yang ada pada seseorang adalah sifat pelit yang sangat pelit dan sifat pengecut yang sangat pengecut.” (HR. Ahmad)
Maka, apabila kita termasuk orang yang seperti itu, hendaknya kita menghilangkan penyakit hati tersebut dengan cara merenungkan bagaimana kondisi kita di Akhirat kelak bila sifat kikir itu dipelihara terus-terusan. Malah bisa jadi balasan buruknya bukan sekadar didapat di Akhirat, di Dunia pun bisa jadi dapat juga.
“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan akan dikalungkan kelak di lehernya pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 180)
Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar” (QS. Al Lail: 8-10)
وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ ﴿الليل
وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ ﴿الليل
فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْعُسْرَىٰ ﴿الليل
10. Panjang angan – angan .Orang yang terlalu panjang angan-angan pun berbahaya. Karena dia mengerahkan segenap tenaganya, waktunya, dan uangnya untuk mengejar keinginan-keinginannya; sembari melalaikan kewajibannya dan malah tak peduli hal-hal yang diharamkan.
Orang seperti itu, seolah-olah atau memang menganggap dirinya tak akan mati, atau matinya masih lama. Sehingga, dia tidak mempersiapkan bekal untuk menghadapi hari Akhir.
“Orang berakal adalah yang tidak panjang angan-angannya. Karena, siapa saja yang kuat angan-angannya, maka amalnya lemah. Siapa saja yang dijemput ajalnya, maka angan-angannya pun tidak ada gunanya. Orang berakal tidak akan meninggal tanpa bekal; berdebat tanpa hujah dan berbenturan tanpa kekuatan. Dengan akal, jiwa akan hidup; hati akan terang; urusan akan berjalan dan dunia akan berjalan.” (Ibn Hayyan al-Basti, Raudhatu al-‘Uqala’ wa Nuzhatu al-Fudhala’).
wallahu a'lam 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel 9 Let Go