PART FOUR, Ramadhan Hari kesembilan
Assalamu’alaikumussalaam,….
Alhamdulillah kita sudah memasuki ramadhan
minggu kedua.Sebuah proses yang penuh berkah
telah kita lalui kemarin, masyaalloh keberkahan Allah SWT di ramadhan 10
hari pertama kita diberikanNya keberkahan yang melimpah ruah, jadi nikmat
manakah yang kan kita dustakan. Masih berani coba – coba untuk kufur nikmat?
Rasanya kok ndak mau ya sahabat., sayang banget puasa kita jika masih seperti
itu. Pada kesempatan saat ini penulis ingin berbagi tentang pentingnya
mengetahui berapa banyak kita sudah percaya dengan kemampuan dan kemauan diri
sendiri. Semoga berkenan membacanya.
Sahabat pernahkah merasakan ga percaya diri? Rasanya
sebenarnya Percaya diri (self-co nggak enak nfidence) adalah kemampuan individu
untuk dapat memahami dan meyakini seluruh potensinya agar dapat dipergunakan
dalam menghadapi penyesuaian diri dengan lingkungan hidupnya. Jika kita sudah
kehilangan rasa “PD” tersebut nanti akan memunculkan rasa yang lebih tidak
mengenakkan lagi seperti mudahnya kita sakit hati akan sesuatu hal yang di luar
ekspektasi kita misalnya, atau bisa muncul karena ketidakpuasan terhadap
kinerja sendiri dan teman-temannya bahkan lingkungannya yang sesungguhnya akar
permasalahan tersebut berasal dari adanya krisis kepercayaan diri yang lambat
kita sadari keberadaannya.. Semua
orang sebenarnya punya masalah dengan istilah yang satu ini. Ada orang yang
merasa telah kehilangan rasa kepercayaan diri di hampir keseluruhan wilayah
hidupnya, sehingga tidak mungkin atau hal yang mustahil ia bisa memiliki rasa
percaya terhadap keputusan yang telah ia buat sendiri. Mungkin terkait dengan
soal krisis diri, depresi, hilang kendali, merasa tak berdaya menatap sisi
cerah masa depan, dan lain-lain. Ada juga orang yang merasapercaya diri dengan
apa yang dilakukannya atau dengan apa yang ditekuninya. Kepercayaan diri
termasuk kedalam aset atau investasi penting dalam diri untuk bisa melakukan kehidupan
sehari-hari dengan baik meskipun anda tidak dalam lingkungan sosial yang baik.
Hati
yang sakit (barisan rasa iri hati, takabur, riya,
ujub, sum’ah, hasad, taqtir dan panjang
angan – angan ). Salah satu
penyumbang penyebab mudahnya jengkel hati kita adalah rombongan
penyakit hati Penyakit
hati itu sungguh berbahaya. Karena dampaknya sangatlah buruk seperti
·
Berdosa, terancam siksa di Neraka
·
Bisa mendatangkan adzab
·
Merugikan dan membuat risih orang lain
·
Kadang bisa membuat fisik sendiri juga jadi
sakit
·
Dan masih banyak lagi, jadi sebisa mungkin kita
jaga hati ya sahabat agar ke 6 barisan penyakit hati tidak nempel dan melekat
dalam diri kita, Keep doa ya.
Dijelaskan
dalam Al Qur’an tentang sebab dan akibatnya, di antaranya adalah :
1.
Takabbur
yang berarti sombong. Astagfirloh! Sombong in yang bisa jadi kita sadari atau tidak. nyata-nyata sudah meresahkan orang lain.
Misalnya, tatkala ada seseorang yang hendak
menasehati kita, tapi kita malah menolaknya. Kita manganggap diri kita
sudah benar, hebat, dan pintar; tidak ada yang salah sama sekali. Jadi tidak
perlu mendengarkan apa-apa masukan dari orang lain. Karena orang lain itu
kebanyakan salah, bodoh, dan tidak berguna. Padahal, bisa jadi itu hanya
anggapan saja, bukan realita.
Sombong praktiknya bisa bermacam-macam. Namun
intinya sombong itu adalah merendahkan orang lain dan menolak kebenaran.
Beberapa contoh orang-orang sombong yang
dimusnahkan oleh Allah diantaranya adalah: Firaun, Raja Namrud, Qarun. Tentunya
kita selalu berdoa agar tidak seperti mereka ya sahabat.
Allah SWT berfirman: Janganlah
kalian berjalan di muka bumi dengan penuh kesombongan (QS al-Isra’
[17]: 37).
Allah SWT pun berfirman (yang artinya): Itulah
kampung akhirat yang Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menghendaki
kesombongan di muka bumi dan tidak pula membuat kerusakan. Akibat kebaikan itu
adalah bagi kaum yang bertakwa (QS al-Qashash [28]: 83).
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak
akan masuk Surga orang yang di dalam kalbunya ada sikap sombong meski sebesar
biji sawi.”
Bagi mereka yang mengidap penyakit sombong,
sebenarnya cara agar sembuhnya agak mudah. Yaitu, cukup ‘buka mata’ saja untuk
melihat fakta. Karena kerapnya orang yang sombong itu adalah mereka yang tak
melihat fakta bahwa sejatinya dirinya tidak seperti yang ia khayalkan.
2.
Riya’
adalah melakukan ibadah, dengan niat ingin nantinya dipuji manusia, dan tidak
berniat beribadah kepada Allah semata. Ada seseorang yang dia itu sholatnya jadi
diperbagus dan diperpanjang hanya bila dilihat oleh orang lain.
Supaya orang lain melihatnya. Kalau orang lain sedang tidak ada, maka
sholatnya asal-asalan. Jadi seperti barang mainan saja ya sahabat.
Menurut Al-Hafidz Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul
Baari berkata: “Riya’ ialah menampakkan ibadah dengan tujuan dilihat manusia,
lalu mereka memuji pelaku amalan itu”.
Menurut Imam Al-Ghazali, riya’ adalah mencari
kedudukan pada hati manusia dengan memperlihatkan kepada mereka hal-hal
kebaikan. Sahabat riya’ini bisa muncul kapan saja. Bisa saat sebelum beramal,
ataupun saat sedang beramal.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا
صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ
النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ
صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا
يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ
الْكَافِرِينَ
“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti
(perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya
kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka
perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian
batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah).
Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah
tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”. (QS.
Al-Baqarah: 264)
Dan ada lagi peringatan bagi
kita yaitu
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang
shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat karena riya.” (QS. Al
Maa’uun 4-6)
3.
Ujubadalah sikap
mengagumi diri sendiri, karena merasa lebih dari yang lain. Berbangga diri
gitu. Mungkin agak mirip dengan takabbur. Namun kalau ujub, belum tentu sambil
berkeyakinan menolak kebenaran. Jadi sudah tahu ya sumbernya bila kita mudah
dan sering sekali jengkel maka bisa jadi tuh salah satunya dari rasa yang ini
nih.
Kalau menurut Imam Al-Ghazali, “Perasaan
‘ujub adalah kecintaan seseorang pada suatu karunia dan merasa memilikinya
sendiri, tanpa mengembalikan keutamaannya kepada Alloh.” Meski tentu tidak
selalu, namun bisa jadi seseorang itu menjadi ujub karena dipicu
diantaranya oleh
- mendapatkan banyak pujian-pujian dari orang lain
·
Banyak berhasil beberapa kali
·
Memiliki wewenang besar dan langka, yang
bila dimanfaatkan akan sangat memudahkan yang biasanya sulit
·
Memiliki banyak ilmu pengetahuan
·
Terkenal
·
Fisik dan penampilannya menarik
Yang pasti, ujub itu terjadi
bila telah berhenti dari berdzikir kepada Allah.
“Bagi Allah semua kerajaan langit dan bumi dan
apa yang ada di antaranya.” (QS. Al Maidah: 120)
Rasulullah Saw bersabda, “Tiga hal yang
membinasakan: Kekikiran yang diperturutkan, hawa nafsu yang diumbar, dan
kekaguman seseorang pada dirinya sendiri.” (HR. Thabrani).
4.
Sum’ah
asal Kata “sum’ah” berasal dari kata “samma’a”, yang artinya secara bahasa
adalah “memperdengarkan”. Secara istilah, sum’ah adalah sikap seorang
muslim yang membicarakan atau memberitahukan amal shalihnya -yang sebelumnya
tidak diketahui atau tersembunyi- kepada manusia lain, agar dirinya mendapatkan
kedudukan dan/atau penghargaan dari mereka, atau mengharapkan keuntungan
materi.
Dalam kitab Fathul Bari, Imam Ibnu Hajar
Al-Asqalani ada mengetengahkan pendapat Izzudin bin Abdussalam yang membedakan
antara riya dan sum’ah. Bahwa riya adalah sikap seseorang yang beramal bukan
untuk Allah; sedangkan sum’ah adalah sikap seseorang yang menyembunyikan
amalnya untuk Allah, namun ia bicarakan hal tersebut kepada manusia. Sehingga,
menurut beliaiu, semua riya itu termasuk perbuatan tercela. Sedangkan sum’ah,
bisa jadi termasuk amal terpuji jika ia melakukannya
karena Allah dan untuk memperoleh ridha-Nya, dan tercela jika dia
membicarakan amalnya di hadapan manusia.
Dalam Al-Qur’an Allah telah memperingatkan
tentang sum’ah dan riya ini: “Hai orangorang yang beriman, janganlah kamu
menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti
(perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya
kepada manusia…” (QS. Al-Baqarah : 264)
Rasulullah Saw juga memperingatkan dalam
haditsnya, “Siapa
yang berlaku sum’ah maka akan diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah dan siapa
yang berlaku riya maka akan dibalas dengan riya.” (HR. Bukhari)
Diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah maksudnya
adalah, diumumkan aib-aibnya di akhirat. Sedangkan dibalas dengan riya, artinya
diperlihatkan pahala amalnya, namun tidak diberi pahala kepadanya.
5.
Hasad
adalah merasa iri dengki pada kenikmatan dan kelebihan orang lain, disertai
harapan agar semua itu hilang dari orang lain itu. Baik disertai harapan agar
berpindah kepada dirinya, sehingga fokusnya hanya pada dirinya saja..
Hasad hukumnya haram, baik dalam hal
duniawi atau hal agama. Apalagi kalau hasad itu disertai tindakan,
perbuatan, atau ucapan, langsung atau tidak langsung, agar kenikmatan/kelebihan
itu hilang dari pemiliknya. Naudzubillah.
6.
Dengki .
Dengki merupakan suatu perbuatan yang memiliki dampak luas bagi jiwa dan
raga kita. Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda: “Janganlah
kalian saling dengki, jangan saling menipu, jangan saling menjauhi, dan jangan
sebagian kalian membeli di atas pembelian yang lain. Jadilah kalian
sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara
bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzaliminya, enggan membelanya,
membohonginya dan menghinanya. Takwa itu di sini—Rasul menunjuk dada
beliau tiga kali. Keburukan paling keterlaluan seseorang adalah ia menghina
saudaranya yang Muslim. Setiap Muslim atas Muslim lainnya itu haram
darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR Muslim dan Ahmad)
7.
Taqtir
itu artinya terlalu pelit. Tidak mau
mengeluarkan harta, padahal wajib.
Imam Ibnu Jauzi dalam kitabnya at-thibbu
ar-ruhi mendefinisikan kikir sebagai sifat
enggan menunaikan kewajiban, baik harta
benda ajau jasa.
Kikir
ini termasuk penyakit hati yang sangat membahayakan. Apalagi
kalau semakin banyak orang yang seperti ini, bisa-bisa semasyarakat akan
hancur. Lantaran, tiap orang memang punya hak dari orang lain. Kalau itu
ditahan, maka kebutuhan orang akan macet. Namun tentu alasan utamanya
adalah karena bila kewajiban ditahan, maka Allah akan murka, sehingga sulit
bahkan bisa saja mustahil mendapat berkah.
Rasulullah
Saw bersabda: “Seburuk-buruk sifat yang ada pada seseorang
adalah sifat pelit yang sangat pelit dan sifat pengecut yang sangat pengecut.”
(HR. Ahmad)
Maka,
apabila kita termasuk orang yang seperti itu, hendaknya kita menghilangkan
penyakit hati tersebut dengan cara merenungkan bagaimana
kondisi kita di Akhirat kelak bila sifat kikir itu dipelihara terus-terusan.
Malah bisa jadi balasan
buruknya bukan sekadar didapat di Akhirat, di Dunia pun bisa jadi
dapat juga.
“Sekali-kali
janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka
dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya
kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan akan
dikalungkan kelak di lehernya pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala
warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 180)
“Dan
adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan
pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar”
(QS. Al Lail: 8-10)
وَأَمَّا
مَنۢ بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ ﴿الليل
وَكَذَّبَ
بِالْحُسْنَىٰ ﴿الليل
فَسَنُيَسِّرُهُۥ
لِلْعُسْرَىٰ ﴿الليل
10. Panjang angan – angan .Orang yang terlalu panjang angan-angan
pun berbahaya. Karena dia mengerahkan segenap tenaganya, waktunya, dan
uangnya untuk mengejar keinginan-keinginannya; sembari melalaikan kewajibannya
dan malah tak peduli hal-hal yang diharamkan.
Orang
seperti itu, seolah-olah atau memang menganggap dirinya tak akan mati, atau
matinya masih lama. Sehingga, dia tidak mempersiapkan bekal untuk menghadapi
hari Akhir.
“Orang
berakal adalah yang tidak panjang angan-angannya. Karena, siapa saja yang kuat
angan-angannya, maka amalnya lemah. Siapa saja yang dijemput ajalnya, maka
angan-angannya pun tidak ada gunanya. Orang berakal tidak akan meninggal tanpa
bekal; berdebat tanpa hujah dan berbenturan tanpa kekuatan. Dengan akal, jiwa
akan hidup; hati akan terang; urusan akan berjalan dan dunia akan berjalan.” (Ibn
Hayyan al-Basti, Raudhatu al-‘Uqala’ wa Nuzhatu al-Fudhala’).
wallahu a'lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar