PART FOUR, Ramadhan Hari ketigabelas
B.Faktor penyebab pikiran dan hati menjadi jengkel
Baik mari kita bahas bersama mengapa seseorang bisa menjadi
kesal? Apa alasan dari kekesalan itu sendiri? Dan bisakah kita meminimalisir
bahkan menghilangkannya sama sekali.
- Orang yang belum mengenal dirinya sendiri dan untuk apa dia hidup di dunia ini.
Kita kudu tahu lho sahabat siapa diri kita, apa tujuan kita
hidup kita dan akan kemana setelah hidup ini (dalem banget ya , bukan baper
kok). Karena memang sejatinya kita dipersiapkan Allah sejak belum ada dulu dan
diadakanNya kemudian sampai nggak ada lagi karena sudah berada di padang
mahsyar, semoga kita diberikan syafaat nabi Muhammad SAW.
- Tidak terbiasa dengan perubahan situasi.
Selalu terkotak dengan kesimpulan sendiri alias belum siap
dengan hiruk pikuk kejadian di sekitar
yang berakibat pada perilkau yang cenderung menarik diri saat dirasakan
ada tidak beres bagi ukuran dan pandangan hidupnya. Jangan lama-lama karena
bisa ngeri akibatnya. Learn quickly but is sofly.
- Belum terbiasa dengan perbedaan antara perorangan maupun antar kelompok.
Belum bisa adaptasi dengan cepat dan
susah “move on”. Seperti saat ada yang putus cinta (bukan menyalahkan
yang sedang atau pernah “ pacaran ya” )
maka perhatiannya hanya tertuju pada putusnya bukan mencari hikmah di balik
mengapa harus putus atau diputuskan Allah SAW. Be positif never be negative itu
kuncinya.
- Pikiran negatif (negative mindset) dan prasangka buruk.
Selalu curiga dengan orang lain dan mengesampingkan proses tabayyun
atau menanyakan kebenarannya dengan cara yang santun. Karena sejatinya Allah
tidak pernah menciptakan kejahatan dan negative seperti halnya iman yang ada
dalam hati. Tanpa menhadirkan iman tidaklah mungkin kita kuat sholat taraweh
mendengarkan imam membaca sampai 1 juz di setiap 1 rakaatnya misalnya. Negati thinking adalah hasil dari tidak
adanya Allah dalam hati kita. Sebagai ilustrasi gelap adalah keadaan di mana
tidak ada cahaya. Cahaya boleh dipelajari sedangkan gelap tidak boleh.Karena
kata gelap untuk penggambaran ketiadaan cahaya jadi lebih baik hadirkan sejuta
alasan untuk positif thingking. Insyaalloh berkah dan nyaman.
- Merasa tidak puas atau merasa tidak bahagia setelah menikmati dan menjalani sesuatu.
Menganggap bahwa yang dikerjakan nggak pernah selesai,
kurang baik baginya dan bagi orang lain ada saja kurangnya, dia tidak tahu
karena tidak ada rasa syukur dapat berakibat dicerabutnya sedikit demi sedikit
kesyukuran itu dari dirinya. Naudzubillahi min dzalik.
Memang sih sahabat beda tipis antara kita ingin totalitas
dengan nggak pernah puas, sekilas mungkin akan terlihat bahwa sama – sama
bekerja keras namun hasil akhirnya yang beda. Pengambilan sikap dari akhlak
yang dimiliki dapat berbeda tiap orangnya. Seperti di katakan Imam Ghazali akan arti waktu, usia dan kesempatan dalam
beramal.
Teruslah beramal
sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
a. “Siapa yang ,enyatakan laa ilaaha
illallah ikhlas karena Allah semata dan di akhiri hidupnya dengan ikrar
tersebut makan akan masuk surga”.
b. “Siapa yang berpuasa ikhlas karena
Allah dan dia akhiri hidupnya dengan puasa ini maka dia masuk surga”.
c. “Siapa yang bersedekah ikhlas karena
Allah dan dia akhiri hidupnya dengan sedekah ini, maka dia masuk surga “(HR.Ahmad).
Tugas kita dalah berbuat, ikhlaskan,
evaluasi dan bersyukur dengan hasil diserahkan
kepada Allah bertawwakal sepenuh jiwa raga setelah melalui proses yang
sesuai syariat Islam.
- Tekanan dan gangguan sosial baik oleh manusia maupun gangguan berdasarkan situasi yang tidak bersahabat.
Masuk dalam
situasi seperti ini membuat beberapa orang mudah sekali melampiaskan
kebenciannya. Padahal hal-hal sepele seperti itu dapat diabaikan saja. Apabila
kejadian-kejadian kecil terus kita masukkan dan tumpuk dalam kepala sendiri
niscaya hal ini akan membuat pusing sendiri. Terkadang kita lupa bahwa
keterbatasan yang diciptakan Allah SWT bukanlah untuk di keluh kesahakan
melainkan bagaimana cara mengatasinya. Kita terlalu focus pada titik hitam di
tengah di banding luasnya warna putih pada kertas misalnya. Namun di
saatbersamaan kita dapat terkagum-kagum manakala melihat ada gadis cilik usia 9
tahun dapat menhafal 5 juz Al Qur’an dalam kondisi mata yang buta. Lantas
pertanyaannya adalah mengapa gangguan,
tekanan dari luar mampu meruntuhkan keimanan dan kekuatan diri kita? Karena kita tidak percaya dan yakin
sepenuhnya dengan potensi diri kita dan terlalu takut untuk memulainya.
- Keinginan, cita-cita dan rencana yang tidak terwujud.
Bukankah hijrah itu pilihan? Jadi saat sudah membuat
resolusi, tetapkan fokus sahabat, catat jangan terlewat dan berusaha
mewujudkannya dengan cara perbaiki dulu sholatmu karena sholat adalah ibadah
yang kan di hisab pertama kali oleh Allah SWT. Selanjutnya perbaiki diri
sahabat dengan cara perbanyak menuntut ilmu agama, menjalankan sunnah
Rosulullah, selanjutnya adalah istiqomah alias bertahan pada pilihan. Ini
penting sekali karena sejauh mana daya juang sahabat dalam mempertahan fokus
tujuan hidupnya, jika goyah lagi maka akan mudah lagi untuk jengkel lgi, untuk
marah – marah lagi, tersinggung lagi dan lain sebagainya.
- Kekecewaan yang sangat mendalam karena buruknya komunikasi.
Sikap kita
yang tertutup terhadap orang lain cenderung mendorong suatu hasrat untuk nyaman
sendiri. Jika kenyamanan yang kita ciptakan (baik yang nyata maupun
imajinasi) terusik oleh sesuatu dan lain hal maka hati cenderung tidak
berterima dengan apa yang sedang berlangsung sehingga berujung bentrok (baik
bentrok fisik maupun lisan) . Oleh karena itu, sikap hati yang mau
menerima segala sesuatu apa adanya harus dipelihara dan dikembangkan oleh
setiap orang.
Menjadi tidak mau membuka diri dan menerima segala sesuatu apa adanya akan membawa kerugian bagi diri kita sendiri nantinya.
- Kejahatan sendiri akibat kesalahan sendiri maupun kegagalan pribadi.
Merasa selalu ingin diagungkan jadi susah untuk remove hal
buruk dalam dirinya. Ada sebuah kisah di mana Rosulallah mengunjungi sahabat
yang sedang berkumpul. Serempak mereka berdiri menyambutnya seperti layaknya
orang menyambut orang lain yang mereka hormati. Namun Rasulullah SAW tidak
menyukai hal itu. Beliau bersabda, “ Jangan kamu berdiri seperti orang-orang
asing yang mau saling diagungkan”.
Masyaalloh begitu mulia akhlak beliau sahabat. Orang yang datang minta maaf
selalu beliau maafkan. Apalagi kita, terhadap diri sendiri boleh kita terapkan
disiplin namun ada batas pengatur yakni akhlak Nabi Muhammad SAW. Tidak ada
yang lain, jadi jika masih terus menyalahkan diri sendiri ya akibatnya tidaklah
elok sahabat.
- Pekerjaan tidak selesai tepat waktu.
Sahabat manusia bukanlah robot. Jadi seandainya hal tersebut
datang kepada sahabat maka berdamailah dengan hati dan pikiran. Jangan
uring-uringan, mengeluarkan kata – kata sumpah serapah namun kendalikan diri
agar setiap pekerjaan yang sudah dilakukan mempunyai nilai ibadah nggak
mubadzir gitu lho.
Dalam salah satu syair Hasan Al Basri
“Aku tahu rizqiku tidak akan diambil selainku, maka
tenanglah diriku”
“Aku mengetahui perjalan itu jauh dan aku tidak memiliki
bekal, maka aku jadikan takwa kepadaNya sebagai bekal”.
Berusahalah terus untuk bisa itqon atau professional
dengan pekerjaan yang sudah dalam gengamanmu sahabat karena itulah
sebaik-baiknya kesunguhan.
- Tidak ada pekerjaan atau kehilangan pekerjaan.
Menjadi sngat apatis memandang kehidupan sehingga menghambat
kemajuan sendiri., menutup diri dari kemungkinan bantuan orang lain dan
sebagainya. Belajarlah untuk segera bangkit dan bangkit lagi sahabat. Jangan
tunggu momen kehilangan sebagai alasan untuk tidak bersyukur.
Semoga ulasan di atas bermanfaat sahabat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar