Senin, 04 Juni 2018

BAW#DAYS13FAKTORPENYEBAB


PART  FOUR, Ramadhan Hari ketigabelas

B.Faktor penyebab pikiran dan hati menjadi jengkel
Baik mari kita bahas bersama mengapa seseorang bisa menjadi kesal? Apa alasan dari kekesalan itu sendiri? Dan bisakah kita meminimalisir bahkan menghilangkannya sama sekali.
  1. Orang yang belum mengenal dirinya sendiri dan untuk apa dia hidup di dunia ini.
Kita kudu tahu lho sahabat siapa diri kita, apa tujuan kita hidup kita dan akan kemana setelah hidup ini (dalem banget ya , bukan baper kok). Karena memang sejatinya kita dipersiapkan Allah sejak belum ada dulu dan diadakanNya kemudian sampai nggak ada lagi karena sudah berada di padang mahsyar, semoga kita diberikan syafaat nabi Muhammad SAW. 
  1. Tidak terbiasa dengan perubahan situasi.
Selalu terkotak dengan kesimpulan sendiri alias belum siap dengan hiruk pikuk kejadian di sekitar  yang berakibat pada perilkau yang cenderung menarik diri saat dirasakan ada tidak beres bagi ukuran dan pandangan hidupnya. Jangan lama-lama karena bisa ngeri akibatnya. Learn quickly but is sofly.
  1. Belum terbiasa dengan perbedaan antara perorangan maupun antar kelompok.
Belum bisa adaptasi dengan cepat dan susah “move on”. Seperti saat ada yang putus cinta (bukan menyalahkan yang sedang  atau pernah “ pacaran ya” ) maka perhatiannya hanya tertuju pada putusnya bukan mencari hikmah di balik mengapa harus putus atau diputuskan Allah SAW. Be positif never be negative itu kuncinya.  
  1. Pikiran negatif (negative mindset) dan prasangka buruk.
Selalu curiga dengan orang lain dan mengesampingkan proses tabayyun atau menanyakan kebenarannya dengan cara yang santun. Karena sejatinya Allah tidak pernah menciptakan kejahatan dan negative seperti halnya iman yang ada dalam hati. Tanpa menhadirkan iman tidaklah mungkin kita kuat sholat taraweh mendengarkan imam membaca sampai 1 juz di setiap 1 rakaatnya misalnya.  Negati thinking adalah hasil dari tidak adanya Allah dalam hati kita. Sebagai ilustrasi gelap adalah keadaan di mana tidak ada cahaya. Cahaya boleh dipelajari sedangkan gelap tidak boleh.Karena kata gelap untuk penggambaran ketiadaan cahaya jadi lebih baik hadirkan sejuta alasan untuk positif thingking. Insyaalloh berkah dan nyaman.
  1. Merasa tidak puas atau merasa tidak bahagia setelah menikmati dan menjalani sesuatu.
Menganggap bahwa yang dikerjakan nggak pernah selesai, kurang baik baginya dan bagi orang lain ada saja kurangnya, dia tidak tahu karena tidak ada rasa syukur dapat berakibat dicerabutnya sedikit demi sedikit kesyukuran itu dari dirinya. Naudzubillahi min dzalik.
Memang sih sahabat beda tipis antara kita ingin totalitas dengan nggak pernah puas, sekilas mungkin akan terlihat bahwa sama – sama bekerja keras namun hasil akhirnya yang beda. Pengambilan sikap dari akhlak yang dimiliki dapat berbeda tiap orangnya. Seperti di katakan Imam Ghazali  akan arti waktu, usia dan kesempatan dalam beramal.
Teruslah beramal  sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
a.       “Siapa yang ,enyatakan laa ilaaha illallah ikhlas karena Allah semata dan di akhiri hidupnya dengan ikrar tersebut makan akan masuk surga”.
b.      “Siapa yang berpuasa ikhlas karena Allah dan dia akhiri hidupnya dengan puasa ini maka dia masuk surga”.
c.       “Siapa yang bersedekah ikhlas karena Allah dan dia akhiri hidupnya dengan sedekah ini, maka dia masuk surga  “(HR.Ahmad).
Tugas kita dalah berbuat, ikhlaskan, evaluasi dan bersyukur dengan hasil diserahkan  kepada Allah bertawwakal sepenuh jiwa raga setelah melalui proses yang sesuai syariat Islam.
  1. Tekanan dan gangguan sosial baik oleh manusia maupun gangguan berdasarkan situasi yang tidak bersahabat.
Masuk dalam situasi seperti ini membuat beberapa orang mudah sekali melampiaskan kebenciannya. Padahal hal-hal sepele seperti itu dapat diabaikan saja. Apabila kejadian-kejadian kecil terus kita masukkan dan tumpuk dalam kepala sendiri niscaya hal ini akan membuat pusing sendiri. Terkadang kita lupa bahwa keterbatasan yang diciptakan Allah SWT bukanlah untuk di keluh kesahakan melainkan bagaimana cara mengatasinya. Kita terlalu focus pada titik hitam di tengah di banding luasnya warna putih pada kertas misalnya. Namun di saatbersamaan kita dapat terkagum-kagum manakala melihat ada gadis cilik usia 9 tahun dapat menhafal 5 juz Al Qur’an dalam kondisi mata yang buta. Lantas pertanyaannya adalah  mengapa gangguan, tekanan dari luar mampu meruntuhkan keimanan dan kekuatan diri kita?   Karena kita tidak percaya dan yakin sepenuhnya dengan potensi diri kita dan terlalu takut untuk memulainya.
  1. Keinginan, cita-cita dan rencana yang tidak terwujud.
Bukankah hijrah itu pilihan? Jadi saat sudah membuat resolusi, tetapkan fokus sahabat, catat jangan terlewat dan berusaha mewujudkannya dengan cara perbaiki dulu sholatmu karena sholat adalah ibadah yang kan di hisab pertama kali oleh Allah SWT. Selanjutnya perbaiki diri sahabat dengan cara perbanyak menuntut ilmu agama, menjalankan sunnah Rosulullah, selanjutnya adalah istiqomah alias bertahan pada pilihan. Ini penting sekali karena sejauh mana daya juang sahabat dalam mempertahan fokus tujuan hidupnya, jika goyah lagi maka akan mudah lagi untuk jengkel lgi, untuk marah – marah lagi, tersinggung lagi dan lain sebagainya.
  1. Kekecewaan yang sangat mendalam karena buruknya komunikasi.
Sikap kita yang tertutup terhadap orang lain cenderung mendorong suatu hasrat untuk nyaman sendiri. Jika kenyamanan yang kita ciptakan (baik yang nyata maupun imajinasi) terusik oleh sesuatu dan lain hal maka hati cenderung tidak berterima dengan apa yang sedang berlangsung sehingga berujung bentrok (baik bentrok fisik maupun lisan) . Oleh karena itu, sikap hati yang mau menerima segala sesuatu apa adanya harus dipelihara dan dikembangkan oleh setiap orang.

Menjadi tidak mau membuka diri dan menerima segala sesuatu apa adanya akan membawa kerugian bagi diri kita sendiri nantinya.

  1. Kejahatan sendiri akibat  kesalahan sendiri maupun  kegagalan pribadi.
Merasa selalu ingin diagungkan jadi susah untuk remove hal buruk dalam dirinya. Ada sebuah kisah di mana Rosulallah mengunjungi sahabat yang sedang berkumpul. Serempak mereka berdiri menyambutnya seperti layaknya orang menyambut orang lain yang mereka hormati. Namun Rasulullah SAW tidak menyukai hal itu. Beliau bersabda, “ Jangan kamu berdiri seperti orang-orang asing yang mau  saling diagungkan”. Masyaalloh begitu mulia akhlak beliau sahabat. Orang yang datang minta maaf selalu beliau maafkan. Apalagi kita, terhadap diri sendiri boleh kita terapkan disiplin namun ada batas pengatur yakni akhlak Nabi Muhammad SAW. Tidak ada yang lain, jadi jika masih terus menyalahkan diri sendiri ya akibatnya tidaklah elok sahabat. 
  1. Pekerjaan tidak selesai tepat waktu.
Sahabat manusia bukanlah robot. Jadi seandainya hal tersebut datang kepada sahabat maka berdamailah dengan hati dan pikiran. Jangan uring-uringan, mengeluarkan kata – kata sumpah serapah namun kendalikan diri agar setiap pekerjaan yang sudah dilakukan mempunyai nilai ibadah nggak mubadzir gitu lho.
Dalam salah satu syair Hasan Al Basri
“Aku tahu rizqiku tidak akan diambil selainku, maka tenanglah diriku”
“Aku mengetahui perjalan itu jauh dan aku tidak memiliki bekal, maka aku jadikan takwa kepadaNya sebagai bekal”.
Berusahalah terus untuk bisa itqon atau professional dengan pekerjaan yang sudah dalam gengamanmu sahabat karena itulah sebaik-baiknya kesunguhan.
  1. Tidak ada pekerjaan atau kehilangan pekerjaan.
Menjadi sngat apatis memandang kehidupan sehingga menghambat kemajuan sendiri., menutup diri dari kemungkinan bantuan orang lain dan sebagainya. Belajarlah untuk segera bangkit dan bangkit lagi sahabat. Jangan tunggu momen kehilangan sebagai alasan untuk tidak bersyukur.
Semoga ulasan di atas bermanfaat sahabat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel 9 Let Go