PART SIX, Ramadhan Hari
keenambelas
KISAH TELADAN DARI SEEKOR SEMUT
Di tengah-tengah padang pasir yang gersang dan
tandus Nabi Sulaiman merasa takjub dan heran bagaimana semut tersebut bisa
bertahan hidup di atas batu yang kering. Beliau pun bertanya kepada semut itu: “
Wahai semut bagaimana cara kamu dapat makanan? Apakah kamu yakin bisa
memperoleh makanan yang cukup untuk kamu bisa bertahan hidup”.
Semut pun menjawab: “Rezeki di tangan ALLAH,
aku percaya rezeki di tangan ALLAH, aku yakin di atas batu kering di padang
pasir yang tandus seperti ini pun pasti tersedia rezeki untuk ku”. Lantas
Nabi Sulaiman pun bertanya: ” Wahai semut, seberapa banyakkah engkau makan?
Jenis makanan apakah yang engkau sukai? Dan berapa banyak makanan yang engkau
makan dalam satu bulan?”
Jawab
semut: “Aku makan hanya sekadar sebiji gandum setiap satu bulan”.
Nabi Sulaiman pun kemudia
berkata: “Kalau kamu makan hanya sebiji gandum sebulan tidak lah sulit
bagimu melata di atas batu, aku bahkan bisa membantumu”. Nabi Sulaiman pun
mengambil sebuah kotak, dia angkat semut itu dan dimasukkan ke dalamnya;
kemudian Nabi mengambil gandum sebiji, dibubuhkan kedalam kotak dan kemudian di
tutup lah kotak tersebut.
Kemudian Nabi meninggalkan semut di dalam kotak
yang tertutup dengan sebiji gandum didalamnya untuk jatah makanan semut selama
satu bulan. Akhirnya satu bulan kemudian Nabi Sulaiman kembali untuk bertemu
dan melihat keadaan sang semut. Terlihatlah gandum yang sebiji hanya dimakan
setengah saja oleh si semut, lantas Nabi Sulaiman berkata dengan suara yang
meninggi: “Kamu rupanya berbohong padaku! Bulan lalu kamu katakan kamu makan
sebiji gandum sebulan, ini sudah sebulan lewat tapi kamu hanya makan setengahnya”.
Jawab semut: “Aku tidak berbohong, aku tidak
berbohong, kalau aku ada di atas batu aku pasti makan apapun sehingga banyaknya
sama seperti sebiji gandum untuk satu bulan, itu karena makanan yang aku cari
sendiri dan rezeki itu datangnya dari Allah dan Allah tidak pernah lupa padaku.
Tetapi bila kamu masukkan aku dalam kotak yang tertutup, rezekiku bergantung
padamu dan aku tak percaya kepada mu, itulah sebabnya aku makan setengah saja
supaya tahan dua bulan. Aku takut kamu lupa…”.
Akhirnya Nabi Sulaiman
tersenyum dan mengerti dengan penjelasan semut tersebut…
Demikianlah seekor semut
sahabat Nabi Sulaiman telah mengajarkan kita makna hakiki sebuah kemerdekaan,
sebuah kemandirian. Kebebasan yang sejati adalah manakala kita hanya
menggantungkan keyakinan diri kita hanya kepada Tuhan sang Khalik, Sang
Pencipta. Dan tidak menggantungkan diri kita kepada selain Nya, yang bernama makhluk,
yang diciptakan.
Semut bisa mendidik kita
untuk TSABAT (kesungguhan manusia dalam beribadah mendekat kepada Tuhannya yang
satu saja ALLAH).Inilah harga diri yang mesti kita tanamkan, inilah martabat
dan kemuliaan orang yang beriman. Dengan keyakinan tersebut sejarah mencatat
peradaban umat manusia telah ditulis dengan tinta emas betapa kemuliaan perjuangan para Nabi yang diwariskan kepada umat
manusia. Inilah prinsip perjuangan seluruh Nabi untuk menundukkan diri hanya
kepada Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi Nya. Nash masak kita yang sudah
diwarisi akal pikiran tidak mau belajar untuk mengelola hati dan jalur-jalurnya
agar nggak tersesat masuk ke jiwa yang berakibat sakit berkepanjangan. Sudah ya
stop berargumen, tunaikan saja menjadi pribadi yang diinginkan agama Islam
insyaalloh berkah.
Manakala setiap tutur kata
dan tingkah laku kita terjaga dari hal yang sia-sia, dari keburukan, karena ada patroli
dalam diri telah tertancap keyakinan bahwa segala perkataan
dan perbuatan kita senantiasa diawasi oleh Allah tanpa satu detikpun
terlewatkan. Bahkan niat kita yang masih didalam hatipun Allah mengetahui.
Sehingga dari keyakinan tersebut, timbul kesadaran untuk mendedikasikan hidup
dan kehidupan kita karena Allah semata.
Sebagai seorang beriman tidak perlu ada
keresahan, kegalauan, atau ketakutan dalam diri. Sesungguhnya Allah Maha Benar,
Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Kesulitan ekonomi,
persoalan keluarga, kelaparan atau apapun permasalahan yang dihadapi manusia
bukanlah bentuk kebencian atau ketidak pedulian Allah. Karena Tuhan tak pernah
menganiaya hambanya, Dia tidak mungkin berbuat zalim.
Inilah prinsip
dan keyakinan Ilahiah yang mesti ada dalam diri-diri setiap insan,
laksana akar dari pohon yang membuat kokoh dan akan menghasilkan buah yang bisa
dinikmati sekaligus tempat berteduh banyak orang. Laksana
Pondasi sebuah bangunan yang menopang sebuah gedung, menopang manusia yang
tinggal diatasnya, memberikan perlindungan dan keamanan terhadap panas, hujan,
angin bahkan gempa.
Semoga Bermanfaat.
Allahu Ta’ala A’lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar