PART SIX, Ramadhan Hari ketujuhbelas
Sahabat jumpa
lagi dengan saya, masih di frekuensi yang sama hanya beda bahasan ya.
Sepertinya kita hampir berada di penghujung pembahasan tentang manajemen
jengkel. Nah apa itu bagian terpentingnya. Simak ya dan jangan lupa untuk beri
komentar juga tanggapan karena tulisan ini bisa jadi buanyak salahnya.
Kita hanya akan
merangkum materi – materi yang tersampaikan sebelumnya.Apa saja hal tersebut,
yuk kita simak bersama –sama :
a.
Memaafkan
b.
Sadari
akibatnya
c.
Bicarakan
atau komunikasikan
d.
Selalu
tersenyum karena senyum adalah sedekah jariyah yang dahsyaaat
e.
Memaklumi
keadaan dan kondisi
f.
Pahami
arti sikapmu
g.
Cooling
down
h.
Jangan
Lupakan Cara UNTUK BAHAGIA
i.
La
tahzan


Dari banyaknya uraian dalam pembahasan di materi saya sebelumnya
banyak sekali sudah tersampaikan apa sebabnya, faktor – faktornya, mengapa menjadi
jengkel dan bahkan cara penanggulangannya, wah seperti ada bencana alam ya. Nah
saat ini bersia—siap untuk mitigasi nih.
Saya
hanya akan menyampaikan tentang kisah sahabat nan agung yakni Sa’ban seperti
nama bulan hijriyah ya sahabat. Benar kisah yang sangat menyentuh dan
inspiratif menurut saya karena sarat akan pesan menggugah agar kita bisa
menjadi pribadi yang tidak asal-asalan. Melainkan menjadi pribadi yang terasah
seperti batu intan berlian, zamrud, batu ruby.
Sa’ban
adalah sahabat Rasulullah SAW yang tidak pernah meninggalkan sholat berjamaah.
Snetiap sholat beliau selalu berada di tempat yang sama dengan pakaian yang
sama dan itu sangat menarik perhatian baginda Nabi Muhammad SAW. Bagaimana tidak
nabi memperhatikan tempat Sa’ban memilih tempat di masjid itu adalah yang
paling pojok kanan sehingga tidak mengganggu sahabat lainnya yang akan
beribadah.
Pada
suatu hari Rasulullah SAW tidak melihat Sa’ban berada di masjid. Di tunggu satu
hari berlalu, dua hari berlalu dan akhirnya saat hari ketiga bertanyalah
Rasulullah kepada salah seorang sahabat adakah yang mengetahui di mana rumah Sa’ban.
Suasana hening sesaat karena tidak ada yang menjawab, sampai kemudian ada salah
satu sahabat yang mengkat tangannya dan berkata ,”saya tahu rumah Sa’ban ya
Rasulullah”. Nabi pun bergegas ke rumah Sa’ban karena khawatir akan keadaannya.
Sesampai
di rumah Sa’ban yang jarak tempuh ke masjid itu sekitar 3 jam perjalanan
jauhnya dan Sa’ban sini melakukan perjalanan bolak balik ke masjid tanpa penah ketinggalan
sholat berjamaah. Belum lagi jika ada badai debu dan pasir.
Dapatkan
sahabat terka apa yang kemudian Rasul
dapatkan. Masyaalloh di depan pintu rumah Sya’ban ra baginda nabi mengetuknya dengan lembut,”Assalamu’alaikum
kata Rasul, cukup lama terdengar sahutan suara wanita. “ Waalaikumussalaam,” dan
pintu pun terbuka. Ternyata istri dari Sa’ban yang menyambut Nabi Muhammad.
Nabi pun bertanya kemanakah gerangan Sa’ban sudah dua waktu sholat aku tidak
melihatnya. Bukan jawaban langsung yang d dengar baginda melainkan isakan
tangis lirih tertahan sambil berucap,”
Ya Rasullullah Sya’ban ra pergi meninggalkan kami untuk
selama-lamanya pagi tadi. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, Sahabat mulia itu
telah pergi, tidak ada penghalang antara dia dengan Allah bahkan satu – satunya
jalan beliau tidak ke masjid adalah kematiannya.
Sahabat
dikisahkan oleh istrinya bahwa sesaat sebelum wafat Sa’ban seperti berucap
dengan 3 kali teriakan masing- masing satu kalimat.Dan keluarga tidak paham
maksudnya.
“Apa
saja kalimat yang diucapkannya tanya Rasulullah SAW.
1
Aduh
mengapa tidak lebih jauh
2 Aduh mengapa tidak lebih baru
Aduh
mengapa tidak semuanya
Rasulullah pun melantunkan ayat dalam surat Qaaf ayat 22 “
Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lali dari (hal ) ini, maka Kami
singkapkan dari padamu hijab(yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada
hari itu amat tajam”.
Penjelasannya :
1.
Sya’ban
diperlihatkan pahala dari perjalannya pulang pergi ke masjid 3 jam dan melihat
seperti apa surganya kelak maka dia berucap”aduh mengapa tidak lebih jauh,”
timbul penyesalannya mengapa rumahnya tidak jauh lagi dari masjid agar pahala
yang di dapatkannya lebih indah.
2.
Aduh
mengapa tidak lebih baru diucapkannya setelah melihat indahnya surge sebagai
balasan dia memberikan baju hangat yang sudah berdebu kepada seseorang yang
terbaring kedinginan dan dia berikan bajunya yang di luar. Jadi baju butu yang
diberikannya, maka dia berucap seperti itu.Timbul penyesalannya seandainya dia
memberikan pakaian yang baru pastilah surganya semakin kinclong.
3.
Yang
ketiga adalah Sya’ban akan sarapan muncul pengemis dan langsung dibagi 2 roti
tersebut, disitulah muncul kalimat “aduh kenapa tidak semuanya,” ketika
diperlihatkan surge sebagai balasan dari perbuatan mulianya tersebut.
Sesungguhnya pada suatu saat kita semua akan kembali, akan menyesal
dan tentu dengan kadar yang berbeda – beda, Bahkan ada yang meminta ditunda kematiannya
karena pada saat itulah akan diperlihatkan konsekuensi perbuatan kita selama di
dunia. Mereka ingin ditunda karena ingin bersedekah, dengan senyuman, dengan
hartanya, dengan waktunya,dengan ilmunya dan lain sebagainya. Namun kematian
akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan dimundurkan. Jadi masih
mau menyimpan kejengkelan dan tidak mau berbenah untuk mengelolanya sahabat?
Semoga hikmah keteladanan dalam membekas bagi kita semua.Aamiin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar