Senin, 04 Juni 2018

BAW#DAYS17SYA'BAN


PART  SIX, Ramadhan Hari ketujuhbelas

Sahabat jumpa lagi dengan saya, masih di frekuensi yang sama hanya beda bahasan ya. Sepertinya kita hampir berada di penghujung pembahasan tentang manajemen jengkel. Nah apa itu bagian terpentingnya. Simak ya dan jangan lupa untuk beri komentar juga tanggapan karena tulisan ini bisa jadi buanyak salahnya.
Kita hanya akan merangkum materi – materi yang tersampaikan sebelumnya.Apa saja hal tersebut, yuk kita simak bersama –sama :
a.       Memaafkan
b.      Sadari akibatnya
c.       Bicarakan atau komunikasikan
d.      Selalu tersenyum karena senyum adalah sedekah jariyah yang dahsyaaat
e.       Memaklumi keadaan dan kondisi
f.       Pahami arti sikapmu
g.      Cooling down
h.      Jangan Lupakan Cara UNTUK BAHAGIA
i.        La tahzan
Image result for perbedaan marah dan jengkelImage result for perbedaan marah dan jengkelImage result for perbedaan marah dan jengkelDari banyaknya uraian dalam pembahasan di materi saya sebelumnya banyak sekali sudah tersampaikan apa sebabnya, faktor – faktornya, mengapa menjadi jengkel dan bahkan cara penanggulangannya, wah seperti ada bencana alam ya. Nah saat ini bersia—siap untuk mitigasi nih.
Saya hanya akan menyampaikan tentang kisah sahabat nan agung yakni Sa’ban seperti nama bulan hijriyah ya sahabat. Benar kisah yang sangat menyentuh dan inspiratif menurut saya karena sarat akan pesan menggugah agar kita bisa menjadi pribadi yang tidak asal-asalan. Melainkan menjadi pribadi yang terasah seperti batu intan berlian, zamrud, batu ruby.
Sa’ban adalah sahabat Rasulullah SAW yang tidak pernah meninggalkan sholat berjamaah. Snetiap sholat beliau selalu berada di tempat yang sama dengan pakaian yang sama dan itu sangat menarik perhatian baginda Nabi Muhammad SAW. Bagaimana tidak nabi memperhatikan tempat Sa’ban memilih tempat di masjid itu adalah yang paling pojok kanan sehingga tidak mengganggu sahabat lainnya yang akan beribadah.
Pada suatu hari Rasulullah SAW tidak melihat Sa’ban berada di masjid. Di tunggu satu hari berlalu, dua hari berlalu dan akhirnya saat hari ketiga bertanyalah Rasulullah kepada salah seorang sahabat adakah yang mengetahui di mana rumah Sa’ban. Suasana hening sesaat karena tidak ada yang menjawab, sampai kemudian ada salah satu sahabat yang mengkat tangannya dan berkata ,”saya tahu rumah Sa’ban ya Rasulullah”. Nabi pun bergegas ke rumah Sa’ban karena khawatir akan keadaannya.
Sesampai di rumah Sa’ban yang jarak tempuh ke masjid itu sekitar 3 jam perjalanan jauhnya dan Sa’ban sini melakukan perjalanan bolak balik ke masjid tanpa penah ketinggalan sholat berjamaah. Belum lagi jika ada badai debu dan pasir.
Dapatkan sahabat  terka apa yang kemudian Rasul dapatkan. Masyaalloh di depan pintu rumah Sya’ban ra  baginda nabi mengetuknya dengan lembut,”Assalamu’alaikum kata Rasul, cukup lama terdengar sahutan suara wanita. “ Waalaikumussalaam,” dan pintu pun terbuka. Ternyata istri dari Sa’ban yang menyambut Nabi Muhammad. Nabi pun bertanya kemanakah gerangan Sa’ban sudah dua waktu sholat aku tidak melihatnya. Bukan jawaban langsung yang d dengar baginda melainkan isakan tangis lirih tertahan  sambil berucap,” Ya Rasullullah  Sya’ban  ra pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya pagi tadi. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, Sahabat mulia itu telah pergi, tidak ada penghalang antara dia dengan Allah bahkan satu – satunya jalan beliau tidak ke masjid adalah kematiannya.
Sahabat dikisahkan oleh istrinya bahwa sesaat sebelum wafat Sa’ban seperti berucap dengan 3 kali teriakan masing- masing satu kalimat.Dan keluarga tidak paham maksudnya.
“Apa saja kalimat yang diucapkannya tanya Rasulullah SAW.
1        Aduh mengapa tidak lebih jauh
2       Aduh mengapa tidak lebih baru
         Aduh mengapa tidak semuanya

Rasulullah pun  melantunkan ayat dalam surat Qaaf ayat 22 “ Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lali dari (hal ) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab(yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam”.

Penjelasannya :
1.      Sya’ban diperlihatkan pahala dari perjalannya pulang pergi ke masjid 3 jam dan melihat seperti apa surganya kelak maka dia berucap”aduh mengapa tidak lebih jauh,” timbul penyesalannya mengapa rumahnya tidak jauh lagi dari masjid agar pahala yang di dapatkannya lebih indah.
2.      Aduh mengapa tidak lebih baru diucapkannya setelah melihat indahnya surge sebagai balasan dia memberikan baju hangat yang sudah berdebu kepada seseorang yang terbaring kedinginan dan dia berikan bajunya yang di luar. Jadi baju butu yang diberikannya, maka dia berucap seperti itu.Timbul penyesalannya seandainya dia memberikan pakaian yang baru pastilah surganya semakin kinclong.
3.      Yang ketiga adalah Sya’ban akan sarapan muncul pengemis dan langsung dibagi 2 roti tersebut, disitulah muncul kalimat “aduh kenapa tidak semuanya,” ketika diperlihatkan surge sebagai balasan dari perbuatan mulianya tersebut.
Sesungguhnya pada suatu saat kita semua akan kembali, akan menyesal dan tentu dengan kadar yang berbeda – beda, Bahkan ada yang meminta ditunda kematiannya karena pada saat itulah akan diperlihatkan konsekuensi perbuatan kita selama di dunia. Mereka ingin ditunda karena ingin bersedekah, dengan senyuman, dengan hartanya, dengan waktunya,dengan ilmunya dan lain sebagainya. Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan dimundurkan. Jadi masih mau menyimpan kejengkelan dan tidak mau berbenah untuk mengelolanya sahabat?

Semoga hikmah keteladanan dalam membekas bagi kita semua.Aamiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel 9 Let Go