Kamis, 24 Mei 2018

BAW#DAY6nanik ummu najma


PART  FOUR, Ramadhan Hari keenam
Fitrahku – Fitrahmu
Assalamu’alaikum sahabat. Kali ini yang mau kita bahas adalah tentang fitrah kita sebagai manusia yang memiliki segudang potensi dan sesamudera kekhilafan, namun tetap bisa menjadi pribadi yang menyenangkan bagi sekitar kita. Penasaran bagaimana  pemahaman atas apa yang kita baca sejak 5 hari lalu? Yuk, langsung kita simak fase-fasenya  berikut ini.
  1. PENDIDIKAN
                     Islam merupakan agama rahmatan lil alamiin yang diturunkan kepada manusia mulia Nabi Muhammad SAW dengan perantara malaikat mulia yaitu Jibril dan membawa kitab mulia 
                                SELF CONTROL
Sikap Mental            Ketenangan    
                    Kesabaran
Keseimbangan           Optimis pagi hari
hari                             
 
 
Al Qur’anul Karim. Ajarannya yang bersumber dari Allah SWT dengan misi untuk membebaskan manusia dari segala bentuk pengabdian kepada makhluk, kemudian menjadi pengabdi Allah SWT semata. Nah kita di sini bersama – sama saling memberikan kebermanfaatan kita bagi umat. Setuju kan!
 
            Sahabat, secara umum semua manusia dibesarkan dengan pendidikan maupun pola suh dari lingkungannya. Bisa dari orang tuanya, dari kakek neneknya(jika ortu sudah tidak ada misalnya saat kita lahir), paman, bibi, saudara, panti asuhan, di jalanan, di penampungan bahkan mungkin di pengungsian seperti yang saat ini di rasakan sebagian besar masyarakat Islam dunia atas beberapa kejadian perang dalam negaranya. Hal itu tentulah menyumbang sebagai bagian dari karakter seseorang. Apatah itu berhubungan dengan daya tahannya dalam menerima cobaan dan ujian hidup maupun terkoneksi dengan cara pandang serta reaksi sikapnya atas segala Sesuatu yang diterimanya dalam hidup. 
Bersyukur  dan tidaknya seseorang akan jelas terlihat pada saat kontrol dirinya lemah dan bisa membawa kerugian bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Kuncinya terletak pada pengendalian diri. Mengapa penulis katakana demikian, sebab secara logika saja dengan agama yang kita yakini kebenarannya semuanya berakar pada 1 kata yaitu mengendalikan emosi, diri sendiri, menjaga lisan dan juga sikap seperti saat ini ada di bulan mulia syahrul mubarok ramadhan keren 1439 H.
Pengendalian diri sama artinya dengan sadar sepenuhnya dengan yang dilakukan. No game, no pain, BUKAN iklan lho ya. Karena jika kita tidak pernah belajar, nggak juga mau berjuang apalagi bersusah berbuat dan menghasilkan maka rasa sakit dan teman-temannya tidak mungkin datang menghampirinya. Kalau sudah seperti itu ya mustahil juga akan merasakan nikmat dan kesyukuran yang permanen melekat dalam diri kita, istiqomah sampai jannah. Semoga kita semua pun termasuk sahabat yang membaca semoga diberikan Allah SWT akan keberkahan dan karunia tersebut. Aamiin ya robbal alamiin.
Pengendalian diri baru dapat terlihat saat situasi sulit dan melibatkan emosi. Orang yang mampu melakukan perbuatan maksiat ( narkoba, korupsi, selingkuh dari pasangan halalnya atau perbuatan lainnya yang hanya memberikan kebahagian sesaat atau jangka pendek.
Pengendalian diri juga ditunjukkan oleh keberanian seseorang berkomitmen dan mau juga mampu melaksanakan komitmen tersebut.
Faktor – Faktor Self Control yang baik
  1. Sikap mental atau bahasa kerennya determination (mohon koreksi jika salah ya) merupakan sikap mental yang ditandai dengan adanya kemampuan menguasai diri senidir secara sadar.
  2. Ketenangan
Kita selalu bertanya dan Al Qur'an sudah menjawabnya:
a.       Kita bertanya mengapa aku di uji? Al Qur’an menjawab:
الم
Alif laam miim. (QS. Al-Ankabut : 1)

 أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُون

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?. (QS. Al-Ankabut : 2)

 وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِين
“ Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” (QS. Al-Ankabut : 3)


3.      Kesabaran
Allah Ta’ala berfirman:

ي
َاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Aali ‘Imraan:200)

Dan Allah Ta’ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأَمْوَالِ وَالأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:155)
Ash-Shabr (sabar) secara bahasa artinya al-habsu (menahan), dan diantara yang menunjukkan pengertiannya secara bahasa adalah ucapan: “qutila shabran” yaitu dia terbunuh dalam keadaan ditahan dan ditawan. Sedangkan secara syari’at adalah menahan diri atas tiga perkara: yang pertama: (sabar) dalam mentaati Allah, yang kedua: (sabar) dari hal-hal yang Allah haramkan, dan yang ketiga: (sabar) terhadap takdir Allah yang menyakitkan. Demikian sabar menurut para ulama, jadi pilihan ada sama kita mau pilih jalan yang mana nih saat ada keruwetan , kegalauan dan lain – lainnya, Janji Allah itu pasti kok, jadi sabar saja ya. Indah pasti ada waktunya, ada masanya sebagaimana
Allah berfirman:
فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ
“Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu.” (Al-Insaan:24).
 
  1. Keseimbangan atau balance adalah keseimbangan jiwa raga menerima semua yang Allah SWT berikan tanpa penambahan histeria berlebihan dan over acting dengan musibahatau kesulitan kita ( jangan sering-sering upload yang jadinya curhat pribadi, ayok ke Allah saja deh). Bebas ya seimbangnya bukan hanya hati saja, tapi teratur dalam keseharian juga penting.
5.    Optimis pagi hari yang sangat penting jika kita mau menjadi produktif dan kreatif karena Allah SWT memberikan kepada kita untuk selalu mengasah kemampuan dan bertebaran di bumi meski rezeki dan peruntungan kita sudah tercatat di lauh mahfuz. Ada istilah mengasah pisau agar bisa digunakan sepanjang masa, jadi teringat dengan istilah mengasah gergaji dari Stephen Covey yang maksudnya adalah aktivitas untuk mengasah sumber daya yang kita miliki dalam diri seperti spiritual ( misalnya aktivitas sholat, dzikir al masturat,) ,
Intelektual (seperti mengolah pikir kita dengan baca buku, menulis diary, mendengarkan audio ceramah atau pengembangan kepribadian dll),
Emosional ( nah ini yang penulis suka, aktivitas berbincang dan berbicara dengan suami, anak-anak, memeluk suami dan anak-anak )  serta fisikal( kalau yang ini berkaitan dengan olahraga ya sahabat, bisa jogging 5 menit, misalnya).
Insyaalloh dengan berusaha selalu dalam ke 5 kondisi di atas maka sahabat siap untuk berhubungan dengan orang lain membawa jiwa yang  tenang, sabar, indibath(sungguh-sungguh), rasa yang nyaman juga hangat dan raga yang top deh alias sehat dan bugar. Bukannya muslim yang kuat lebih di sukai dari pada muslim yang lemah sebagaimana firman Allah SWT di bawah ini.
Allâh Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman :
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzhalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allâh. Yang demikian itu adalah karunia yang besar. [Fâthir/35:32]
Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
وَلَا تَـعْجَـزْ  “ Janganlah sekali-kali engkau merasa lemah “
Maksudnya lakukanlah segala yang bermanfaat itu dengan kontinyu ! Janganlah lemah dan lambat dalam melakukan amalan itu. Karena sesungguhnya waktu ini singkat sementara kesibukan-kesibukan sangat banyak. Jika seseorang terbiasa melakukan sesuatu yang bermanfaat pada awal waktu dan meminta pertolongan Allâh Subhanahu wa Ta’ala , maka sesuatu yang bermanfaat itu akan lebih bermanfaat baginya. Janganlah malas dan berlambat-lambat dalam beramal. Jika engkau telah memulai melaksanakan sesuatu yang bermanfaat, maka lanjutkanlah. Karena jika engkau tinggalkan amalan ini dan engkau melaksanakan amalan yang lain, maka pekerjaan itu tidak akan sempurna. Semoga Bermanfaat.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel 9 Let Go