PART FOUR, Ramadhan Hari keenam
Fitrahku – Fitrahmu
Assalamu’alaikum
sahabat. Kali ini yang mau kita bahas adalah tentang fitrah kita sebagai
manusia yang memiliki segudang potensi dan sesamudera kekhilafan, namun tetap
bisa menjadi pribadi yang menyenangkan bagi sekitar kita. Penasaran
bagaimana pemahaman atas apa yang kita
baca sejak 5 hari lalu? Yuk, langsung kita simak fase-fasenya berikut ini.
- PENDIDIKAN
Islam merupakan agama
rahmatan lil alamiin yang diturunkan kepada manusia mulia Nabi Muhammad SAW
dengan perantara malaikat mulia yaitu Jibril dan membawa kitab mulia
|
Sahabat, secara umum semua manusia dibesarkan dengan
pendidikan maupun pola suh dari lingkungannya. Bisa dari orang tuanya, dari kakek
neneknya(jika ortu sudah tidak ada misalnya saat kita lahir), paman, bibi,
saudara, panti asuhan, di jalanan, di penampungan bahkan mungkin di pengungsian
seperti yang saat ini di rasakan sebagian besar masyarakat Islam dunia atas
beberapa kejadian perang dalam negaranya. Hal itu tentulah menyumbang sebagai
bagian dari karakter seseorang. Apatah itu berhubungan dengan daya tahannya
dalam menerima cobaan dan ujian hidup maupun terkoneksi dengan cara pandang
serta reaksi sikapnya atas segala Sesuatu yang diterimanya dalam hidup.
Bersyukur dan tidaknya seseorang akan jelas terlihat
pada saat kontrol dirinya lemah dan bisa membawa kerugian bagi dirinya sendiri
maupun orang lain. Kuncinya terletak pada pengendalian diri. Mengapa penulis
katakana demikian, sebab secara logika saja dengan agama yang kita yakini
kebenarannya semuanya berakar pada 1 kata yaitu mengendalikan emosi, diri
sendiri, menjaga lisan dan juga sikap seperti saat ini ada di bulan mulia
syahrul mubarok ramadhan keren 1439 H.
Pengendalian
diri sama artinya dengan sadar sepenuhnya dengan yang dilakukan. No game, no
pain, BUKAN iklan lho ya. Karena jika kita tidak pernah belajar, nggak juga mau
berjuang apalagi bersusah berbuat dan menghasilkan maka rasa sakit dan
teman-temannya tidak mungkin datang menghampirinya. Kalau sudah seperti itu ya
mustahil juga akan merasakan nikmat dan kesyukuran yang permanen melekat dalam
diri kita, istiqomah sampai jannah. Semoga kita semua pun termasuk sahabat yang
membaca semoga diberikan Allah SWT akan keberkahan dan karunia tersebut. Aamiin
ya robbal alamiin.
Pengendalian
diri baru dapat terlihat saat situasi sulit dan melibatkan emosi. Orang yang
mampu melakukan perbuatan maksiat ( narkoba, korupsi, selingkuh dari pasangan
halalnya atau perbuatan lainnya yang hanya memberikan kebahagian sesaat atau
jangka pendek.
Pengendalian diri juga
ditunjukkan oleh keberanian seseorang berkomitmen dan mau juga mampu
melaksanakan komitmen tersebut.
Faktor
– Faktor Self Control yang baik
- Sikap mental atau bahasa kerennya determination (mohon koreksi jika salah ya) merupakan sikap mental yang ditandai dengan adanya kemampuan menguasai diri senidir secara sadar.
- Ketenangan
Kita selalu
bertanya dan Al Qur'an sudah menjawabnya:
a.
Kita bertanya mengapa aku di uji?
Al Qur’an menjawab:
الم
Alif laam miim. (QS. Al-Ankabut : 1)
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُون
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?. (QS. Al-Ankabut : 2)
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِين
“ Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” (QS. Al-Ankabut : 3)
Alif laam miim. (QS. Al-Ankabut : 1)
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُون
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?. (QS. Al-Ankabut : 2)
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِين
“ Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” (QS. Al-Ankabut : 3)
3.
Kesabaran
Allah Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Aali ‘Imraan:200)
Dan Allah Ta’ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأَمْوَالِ وَالأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:155)
Ash-Shabr (sabar) secara
bahasa artinya al-habsu (menahan), dan diantara yang menunjukkan pengertiannya
secara bahasa adalah ucapan: “qutila shabran” yaitu dia terbunuh dalam keadaan
ditahan dan ditawan. Sedangkan secara syari’at adalah menahan diri atas tiga
perkara: yang pertama: (sabar) dalam mentaati Allah, yang kedua: (sabar) dari
hal-hal yang Allah haramkan, dan yang ketiga: (sabar) terhadap takdir Allah
yang menyakitkan. Demikian sabar menurut para ulama, jadi pilihan ada sama kita
mau pilih jalan yang mana nih saat ada keruwetan , kegalauan dan lain –
lainnya, Janji Allah itu pasti kok, jadi sabar saja ya. Indah pasti ada
waktunya, ada masanya sebagaimana
Allah berfirman:
فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ
“Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu.” (Al-Insaan:24).
فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ
“Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu.” (Al-Insaan:24).
- Keseimbangan atau balance adalah keseimbangan jiwa raga menerima semua yang Allah SWT berikan tanpa penambahan histeria berlebihan dan over acting dengan musibahatau kesulitan kita ( jangan sering-sering upload yang jadinya curhat pribadi, ayok ke Allah saja deh). Bebas ya seimbangnya bukan hanya hati saja, tapi teratur dalam keseharian juga penting.
5. Optimis
pagi hari yang sangat penting jika kita mau menjadi produktif dan kreatif
karena Allah SWT memberikan kepada kita untuk selalu mengasah kemampuan dan
bertebaran di bumi meski rezeki dan peruntungan kita sudah tercatat di lauh
mahfuz. Ada istilah mengasah pisau agar bisa digunakan sepanjang masa, jadi
teringat dengan istilah mengasah gergaji dari Stephen Covey yang maksudnya adalah aktivitas untuk
mengasah sumber daya yang kita miliki dalam diri seperti spiritual ( misalnya
aktivitas sholat, dzikir al masturat,) ,
Intelektual
(seperti mengolah pikir kita dengan baca buku, menulis diary, mendengarkan
audio ceramah atau pengembangan kepribadian dll),
Emosional
( nah ini yang penulis suka, aktivitas berbincang dan berbicara dengan suami,
anak-anak, memeluk suami dan anak-anak )
serta fisikal( kalau yang ini berkaitan dengan olahraga ya sahabat, bisa
jogging 5 menit, misalnya).
Insyaalloh
dengan berusaha selalu dalam ke 5 kondisi di atas maka sahabat siap untuk
berhubungan dengan orang lain membawa jiwa yang tenang, sabar, indibath(sungguh-sungguh), rasa
yang nyaman juga hangat dan raga yang top deh alias sehat dan bugar. Bukannya
muslim yang kuat lebih di sukai dari pada muslim yang lemah sebagaimana firman
Allah SWT di bawah ini.
Allâh Subhanahu wa Ta’ala
juga berfirman :
ثُمَّ
أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ
ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ
بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
Kemudian Kitab itu Kami
wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di
antara mereka ada yang menzhalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada
(pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allâh. Yang demikian itu
adalah karunia yang besar. [Fâthir/35:32]
Sabda Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam :
وَلَا
تَـعْجَـزْ “ Janganlah sekali-kali engkau merasa lemah “
Maksudnya lakukanlah
segala yang bermanfaat itu dengan kontinyu ! Janganlah lemah dan lambat dalam
melakukan amalan itu. Karena sesungguhnya waktu ini singkat sementara
kesibukan-kesibukan sangat banyak. Jika seseorang terbiasa melakukan sesuatu
yang bermanfaat pada awal waktu dan meminta pertolongan Allâh Subhanahu wa
Ta’ala , maka sesuatu yang bermanfaat itu akan lebih bermanfaat baginya. Janganlah
malas dan berlambat-lambat dalam beramal. Jika engkau telah memulai
melaksanakan sesuatu yang bermanfaat, maka lanjutkanlah. Karena jika engkau
tinggalkan amalan ini dan engkau melaksanakan amalan yang lain, maka pekerjaan
itu tidak akan sempurna. Semoga Bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar