PART THREE, Ramadhan Hari kelima
Kompromi
Hati
A.
Respon
kemarahan
QS.Al Isra :82
Assallamu’alaikum. “Hai … hai… hai…jumpa lagi dengan tulisan saya
ya”. Maafkan kemarin tidak sempat posting karena sesuatu hal, he...he… namanya juga emak
zaman now,” dalam hati sich. Sahabat kita kembali ke sambungan pembahasan kita
kemarin ya. Sekarang sambungannya masuk ke part 3 meski loncat – loncat semoga
tidak mengaburkan pesan yang saya sampaikan. Seperti di sampaikan dalam surah
Al Isra bahwa kita akan rugi besar jika sudah ada di Al Qur’an namun tidak
menjadi obat bagi kita.
Subhanalloh, bicara hati jangan
langsung baper ya sahabat, kita bahas secara obyektif lho. Namanya juga menyimpan sesuatu yang tidak
nyaman apalagi di tempat yang tak tampak, hati. Masyaalloh, jika tak hati –
hati maka akan sakit hati.
Itu hanyalah sekilas ilustrasi yang
menggambarkan bahwa ternyata nggak pernah enak jika kita memendam sesuatu apalagi
itu bagian dari kebiasaan negatif
apalagi sampai karakter yang akan menyebabkan hidup kita bisa berantakan
hanya gegara kita terlalu reaktif. Perlu
sahabat ketahui bagaimana seseorang tersebut memiliki respon terhadap suatu
kejadian.
Sahabat, sekarang ini jika kita
berbicara tentang emosi maka langsung
terarah pada “marah”, astagfirloh sebenarnya tidak sepenuhnya salah sih, hanya
saja jika kita terlalu mengeneralisasikan bahwa emosi itu kemarahan. Wah bahaya
lho, hati – hati dengan fikiran seperti itu.
Why??? “ Karena emosi itu
sendiri bisa disebut sebagai reaksi tubuh terhadap sebuah situasi marah, sedih,
bahagia ataupun takut yang reaksional. Hal ini wajar karena manusia tanpa emosi
juga hambar, nggak dinamis dan kreatif. Jadi saya hanya menuliskan bagian dari
salah satunya yaitu marah. Marah itu adalah emosi pada manusia berupa
respons emosional yang kuat dan tidak menyenangkan terhadap suatu penyebab baik
nyata ataupun yang dianggap maupun dipersepsikan seseorang. Bisa dibilang bahwa
kemarahan adalah perasaan jengkel yang timbul sebagai respon terhadap kecemasan
yang dirasakan sebagai ancaman atau kegagalan.
Al qur’an dalam surah Al –Imran : 31
mengingatkan kita agar kita saling berkasih sayang. Meskipun marah sebagai
suatu bentuk emosi berada dalam darah kita semua namun ternyata marah punya
tingkatan lho jika meminjam istilah dalam dunia psikiatrik (kejiwaan) disebut
rentang respon marah.
Nah sudah
tahu belum apa saja respon rentang marah itu? “ Keep reading ya”.
- Asertif
Respon
asertif merupakan respon pengungkapan marah tanpa menyakiti, melukai perasaan
orang lain, tanpa merendahkan harga diri orang lain (Keliat, 1996 dalam Muhith,
2015). Orang yang asertif mampu melakukan tindakan yang sesuai untuk mencapai
tujuan tanpa melanggar hak-hak orang lain. Perilaku asertif merupakan respon
marah yang adaptif karena hanya melibatkan
diri sendiri, misalnya nih saat kita tidak lulus seleksi lomba menulis, nah
cemberut terus sedikit menyalahkan diri sendiri mengapa masih belum lulus. Namun
iman kita berbicara kan dan tentunya hal itu tidak lantas membuat kita frustasi
ya kan.
2. 2. Frustasi
Frustasi
adalah respon yang timbul akibat gagal mencapai tujuan atau keinginan, tidak
realitas/ terhambat (Yusuf, 2015). Frustasi dapat dialami sebagai suatu ancaman
dan kecemasan yang dapat berakibat menimbulkan kemarahan. Frustasi merupakan
respon lanjutan dari perilaku asertif dalam rentang respon marah seseorang dan biasanya
terjadi karena gagal dalam mencapai tujuan namun tidak bisa menerima kenyataan.
Bedanya dengan assertif, orang-orang yang mengalami frustasi memiliki tingkat
kecemasan yang lebih tinggi. Tergambar jelas ketegangan dalam dirinya dengan mengurangi
interaksi dengan orang lain dan lebih sering menyendiri.
“KUASAILAH
DIRIMU SEBELUM KAMU DIKUASAI AMARAHMU”
3.Perilaku
pasif
Perilaku pasif merupakan respon dimana
individu tidak mampu mengungkapkan perasaan yang dialami, sifat tidak berani mengemukakan keinginan dan pendapat sendiri, tidak ingin menjadi konflik karena
takut akan tidak disukai atau menyakiti perasaan orang lain (Keliat, 1996 dalam
Muhith, 2015). Perilaku ini merupakan respon lanjutan dalam rentang respon
marah, individu yang mengalami respon ini tidak mampu mengungkapkan perasaannya
dan terlihat menyerah. Salah satu alasan orang melakukan respon pasif karena
individu tersebut takut, malas, atau karena tidak mau terjadi konflik (Keliat,
1996 dalam Muhith, 2015).
Sayangnya
nih marah jenis ini ehm cukup lumayan banyak dilakukan oleh perempuan, fase ini
sangat berbeda dengan fase sebelumnya yang menunjukkan marah dengan nyata. Ini
adalah jenis marah yang lebih banyak
diam, tidak mengungkapkan amarah. Namun beberapa fenomena sekarang malah sering
ya kita lihat di medsos unggahan apapun disampaikan terbuka sedangkan itu
adalah “rahasia dapur keluarga”. Naudzubillah marilah perbaiki komunikasi ya
sebelum cerita yang macem-macem deh. Solusi nggak dapat eh malah lebih banyak
komen negatif, atau jangan – jangan malah semakin viral sehingga banyak juga
yang melakukannya ya. Yuk, back to Alloh agar selalu tenang. Lebih baik
diekspresikan secara wajar, jangan disimpan agar nggak jadi penyakit.
4.Agresif
Perilaku
agresif merupakan perilaku destruktif yang masih terkontrol (Yusuf, 2015).
Perilaku ini memperlihatkan ancaman, kata-kata kasar dan terdapat kontak fisik
terhadap orang lain, tetapi masih bisa dikendalikan oleh pelaku. Menurut Yosep
(2010), ekspresi perilaku ini terjadi secara fisik, tapi masih terkontrol, mendorong
orang lain dengan ancaman bahkan sudah mulai menggunakan kata – kata kasar.Jadi
jangan anggap remeh ya jika melihat ada anak kecil sering berkata kasar bahkan
semua kata kebun binatang keluar dari bibirnya, kita harus punya empati dan kepekaan
agar anak – anak Indonesia tidak terkontaminasi keburukan lebih dalam sebab
sikap diam kita. Ingat lho kelak ada pertanggungjawaban yang akan dimintakan
sama diri ini.
5. Amuk
Nah yang
terakhir ada mengamuk atau dapat disebut juga perilaku kekerasan adalah
perasaan marah dan bermusuhan yang kuat dan hilang kontrol, disertai amuk,
merusak lingkungan (Yosep, 2010). Perilaku amuk merupakan bentuk perilaku
destruktif yang tidak dapat dikontrol (Yusuf, 2015). Perilaku amuk merupakan
rentang yang paling tinggi dalam rentang respon marah, perilaku ini mencederai
secara langsung diri sendiri, orang lain dan merusak lingkungan.
Semoga
kita bisa terhindar ya sahabat dari mengamuk model terakhir ini, kepada Allah
kita sandarkan semua urusan dan berdoa agar Allah SWT sayang dan dekat dengan
kita karena seseorang dikatakan berani bila dia tetap mampu bermujahadah
linafsi, melawan nafsu dan amarah. Kemudian dia tetap mampu mengendalikan diri
dan menahan tangannya padahal punya kemampuan serta peluang untuk melampiaskan
amarahnya serta mulutnya dari menyudutkan atau menyinggung orang lain.
B.
Kompromitas
hati
Kompromitas
hati
Namun
terkadang , emosi yang terlalu meluap bisa mencelakakan kita karena kita sudah
dikuasi nafsu syetan. Nah pastinya sahabat punya cara sendiri ya dalam
mengendalikan diri.
Yang
perlu dilakukan di antaranya adalah
1.
Kita kompromi atau berdamai dengan hati kita agar sehat
kembali
2.
Kembali melihat situasi untuk control procces dari marah
yang berlebihan, coba kembali melihat situasi yang bisa membuat kita marah. Ehm
fikirkan apa penyebabnya.
3.
Analisis masalahnya. Cie..cie..menganalisis pakai apa ya
kira – kira. Yuk Tanya lagi deh sama diri sendiri mengapa sampai segitu
besarnya marah kita dan apa penyebabnya
4.
Ingat selalu bahwa keikhlasan akan membawa ketenangan dan
kesabaran akan membawa kebahagiaan
5.
Hapuskan dendam, bersihkan hati
Insyaalloh
sampai di sini dulu ya sahabat. See you again..
Wassalamu’alaikum wr wb
Tidak ada komentar:
Posting Komentar