Selasa, 22 Mei 2018

BAW#days5


PART  THREE, Ramadhan Hari kelima
Kompromi Hati
A.    Respon kemarahan
        QS.Al  Isra :82Gambar terkait       
 Gambar terkaitAssallamu’alaikum. “Hai … hai… hai…jumpa lagi dengan tulisan saya ya”. Maafkan kemarin tidak sempat posting  karena sesuatu hal, he...he… namanya juga emak zaman now,” dalam hati sich. Sahabat kita kembali ke sambungan pembahasan kita kemarin ya. Sekarang sambungannya masuk ke part 3 meski loncat – loncat semoga tidak mengaburkan pesan yang saya sampaikan. Seperti di sampaikan dalam surah Al Isra bahwa kita akan rugi besar jika sudah ada di Al Qur’an namun tidak menjadi obat bagi kita.

                           
  Subhanalloh, bicara hati jangan langsung baper ya sahabat, kita bahas secara obyektif  lho. Namanya juga menyimpan sesuatu yang tidak nyaman apalagi di tempat yang tak tampak, hati. Masyaalloh, jika tak hati – hati maka akan sakit hati.
Itu hanyalah sekilas ilustrasi yang menggambarkan bahwa ternyata nggak pernah enak jika kita memendam sesuatu apalagi itu bagian dari kebiasaan negatif  apalagi sampai karakter yang akan menyebabkan hidup kita bisa berantakan hanya gegara kita terlalu reaktif.  Perlu sahabat ketahui bagaimana seseorang tersebut memiliki respon terhadap suatu kejadian. 
Sahabat, sekarang ini jika kita berbicara tentang  emosi maka langsung terarah pada “marah”, astagfirloh sebenarnya tidak sepenuhnya salah sih, hanya saja jika kita terlalu mengeneralisasikan bahwa emosi itu kemarahan. Wah bahaya lho, hati – hati dengan fikiran seperti itu.
Why???  “ Karena emosi itu sendiri bisa disebut sebagai reaksi tubuh terhadap sebuah situasi marah, sedih, bahagia ataupun takut yang reaksional. Hal ini wajar karena manusia tanpa emosi juga hambar, nggak dinamis dan kreatif. Jadi saya hanya menuliskan bagian dari salah satunya yaitu marah.  Marah itu adalah emosi pada manusia berupa respons emosional yang kuat dan tidak menyenangkan terhadap suatu penyebab baik nyata ataupun yang dianggap maupun dipersepsikan seseorang. Bisa dibilang bahwa kemarahan adalah perasaan jengkel yang timbul sebagai respon terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman atau kegagalan.

                                                         
Al qur’an dalam surah Al –Imran : 31 mengingatkan kita agar kita saling berkasih sayang. Meskipun marah sebagai suatu bentuk emosi berada dalam darah kita semua namun ternyata marah punya tingkatan lho jika meminjam istilah dalam dunia psikiatrik (kejiwaan) disebut rentang respon marah.
Nah sudah tahu belum apa saja respon rentang marah itu? “ Keep reading ya”.
  1. Asertif
Respon asertif merupakan respon pengungkapan marah tanpa menyakiti, melukai perasaan orang lain, tanpa merendahkan harga diri orang lain (Keliat, 1996 dalam Muhith, 2015). Orang yang asertif mampu melakukan tindakan yang sesuai untuk mencapai tujuan tanpa melanggar hak-hak orang lain. Perilaku asertif merupakan respon marah yang adaptif  karena hanya melibatkan diri sendiri, misalnya nih saat kita tidak lulus seleksi lomba menulis, nah cemberut terus sedikit menyalahkan diri sendiri mengapa masih belum lulus. Namun iman kita berbicara kan dan tentunya hal itu tidak lantas membuat kita frustasi ya kan.

2.                 2. Frustasi
Frustasi adalah respon yang timbul akibat gagal mencapai tujuan atau keinginan, tidak realitas/ terhambat (Yusuf, 2015). Frustasi dapat dialami sebagai suatu ancaman dan kecemasan yang dapat berakibat menimbulkan kemarahan. Frustasi merupakan respon lanjutan dari perilaku asertif dalam rentang respon marah seseorang dan biasanya terjadi karena gagal dalam mencapai tujuan namun tidak bisa menerima kenyataan. Bedanya dengan assertif, orang-orang yang mengalami frustasi memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi. Tergambar jelas ketegangan dalam dirinya dengan mengurangi interaksi dengan orang lain dan lebih sering menyendiri.

                “KUASAILAH DIRIMU SEBELUM  KAMU DIKUASAI AMARAHMU”

3.Perilaku pasif
Perilaku pasif merupakan respon dimana individu tidak mampu mengungkapkan perasaan yang dialami, sifat tidak berani  mengemukakan keinginan dan pendapat sendiri, tidak ingin menjadi konflik karena takut akan tidak disukai atau menyakiti perasaan orang lain (Keliat, 1996 dalam Muhith, 2015). Perilaku ini merupakan respon lanjutan dalam rentang respon marah, individu yang mengalami respon ini tidak mampu mengungkapkan perasaannya dan terlihat menyerah. Salah satu alasan orang melakukan respon pasif karena individu tersebut takut, malas, atau karena tidak mau terjadi konflik (Keliat, 1996 dalam Muhith, 2015).
Sayangnya nih marah jenis ini ehm cukup lumayan banyak dilakukan oleh perempuan, fase ini sangat berbeda dengan fase sebelumnya yang menunjukkan marah dengan nyata. Ini adalah jenis marah yang lebih  banyak diam, tidak mengungkapkan amarah. Namun beberapa fenomena sekarang malah sering ya kita lihat di medsos unggahan apapun disampaikan terbuka sedangkan itu adalah “rahasia dapur keluarga”. Naudzubillah marilah perbaiki komunikasi ya sebelum cerita yang macem-macem deh. Solusi nggak dapat eh malah lebih banyak komen negatif, atau jangan – jangan malah semakin viral sehingga banyak juga yang melakukannya ya. Yuk, back to Alloh agar selalu tenang. Lebih baik diekspresikan secara wajar, jangan disimpan agar nggak jadi penyakit.
4.Agresif
Perilaku agresif merupakan perilaku destruktif yang masih terkontrol (Yusuf, 2015). Perilaku ini memperlihatkan ancaman, kata-kata kasar dan terdapat kontak fisik terhadap orang lain, tetapi masih bisa dikendalikan oleh pelaku. Menurut Yosep (2010), ekspresi perilaku ini terjadi secara fisik, tapi masih terkontrol, mendorong orang lain dengan ancaman bahkan sudah mulai menggunakan kata – kata kasar.Jadi jangan anggap remeh ya jika melihat ada anak kecil sering berkata kasar bahkan semua kata kebun binatang keluar dari bibirnya, kita harus punya empati dan kepekaan agar anak – anak Indonesia tidak terkontaminasi keburukan lebih dalam sebab sikap diam kita. Ingat lho kelak ada pertanggungjawaban yang akan dimintakan sama diri ini.
5. Amuk
Nah yang terakhir ada mengamuk atau dapat disebut juga perilaku kekerasan adalah perasaan marah dan bermusuhan yang kuat dan hilang kontrol, disertai amuk, merusak lingkungan (Yosep, 2010). Perilaku amuk merupakan bentuk perilaku destruktif yang tidak dapat dikontrol (Yusuf, 2015). Perilaku amuk merupakan rentang yang paling tinggi dalam rentang respon marah, perilaku ini mencederai secara langsung diri sendiri, orang lain dan merusak lingkungan.
Semoga kita bisa terhindar ya sahabat dari mengamuk model terakhir ini, kepada Allah kita sandarkan semua urusan dan berdoa agar Allah SWT sayang dan dekat dengan kita karena seseorang dikatakan berani bila dia tetap mampu bermujahadah linafsi, melawan nafsu dan amarah. Kemudian dia tetap mampu mengendalikan diri dan menahan tangannya padahal punya kemampuan serta peluang untuk melampiaskan amarahnya serta mulutnya dari menyudutkan atau menyinggung orang lain.
B.     Gambar terkaitKompromitas hati
Namun terkadang , emosi yang terlalu meluap bisa mencelakakan kita karena kita sudah dikuasi nafsu syetan. Nah pastinya sahabat punya cara sendiri ya dalam mengendalikan diri.
Yang perlu dilakukan di antaranya adalah
1.      Kita kompromi atau berdamai dengan hati kita agar sehat kembali
2.      Kembali melihat situasi untuk control procces dari marah yang berlebihan, coba kembali melihat situasi yang bisa membuat kita marah. Ehm fikirkan apa penyebabnya.
3.      Analisis masalahnya. Cie..cie..menganalisis pakai apa ya kira – kira. Yuk Tanya lagi deh sama diri sendiri mengapa sampai segitu besarnya marah kita dan apa penyebabnya
4.      Ingat selalu bahwa keikhlasan akan membawa ketenangan dan kesabaran akan membawa kebahagiaan
5.      Hapuskan dendam, bersihkan hati
Insyaalloh sampai di sini dulu ya sahabat. See you again..
 Wassalamu’alaikum wr wb

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel 9 Let Go