PART
FOUR, Ramadhan Hari ketujuh
“ Diam adalah suatu kebijaksanaan, tetapi
sedikit benar orang yang berbuat demikian." (HR Baihaqy)"
Pada Suatu
kesempatan, siang hari terik menjelang waktu sholat dzuhur sang guru memberikan
hasil Penilaian Tengah Semester kepada sang anak yang mendapatkan nilai 40
untuk materi pelajaran yang dia ikuti. Kita simak komentarnya ya:
“Ah,
wajar, lah, saya dapat 40. Saya lho ga
belajar, semalam ikut ayah nonton sampai jam sebelas malam. Kayaknya enak deh kalau
saya belajar, pasti dapat nilai 100.”
Demikian komentar
si anak mengenai nilainya.
Sahabat, ada
yang seperti itu atau ada kenal orang di sekitar kita ,adek kita mungkin,
keponakan kita , anak kita, saudara bahkan orang – orang terdekat juga pernah
menyampaikan demikian.
Ilustrasi yang
terinspirasi dari keseharian penulis dengan anak – anak sekolah dasar di atas
menggambarkan si anak, sebagai orang yang suka bersembunyi di balik alasan.
Why????
Karena
sikapnya itu lho, caranya berkomentar itu buat gemezzz. Sang anak memaklumi
saja pada dirinya sendiri pantas dan boleh mendapatkan nilai rendah.
Astagfirloh.
Eiiits, jangan langsung menyalahkan sang anak ya. IT’S NOT GOOD PERSON.Bijaklah
dalam mensikapi apapun yang berlaku atas diri kita maupun orang lain. Kembali
lagi ke pokok tadi ya, apanya yang dimaklumin. Ya, sahabat benar bahwa permaklumannya
terletak pada satu sisi yaitu bahwa ia tidak belajar
menjelang ulangan. Dia adalah anak- anak yang jika tidak dengan cepat ditangani
akan membawa kejengkelan sepanjang hari bila berinteraksi dengannya karena
selalu “blame it or blame somebody”.
Sebagaimana
ilustrasi di atas, seringkali, saat mengalami kegagalan, kita, secara tidak
sadar, bersembunyi di balik alasan dan permakluman. Kita sering mencari alasan
yang memaklumkan atau memaafkan ketidakmampuan kita. Pernah ga seperti itu.
“Aku
belum siap dipilih jadi ketua yang lain sajalah.”
“
Tolonglah, banyak sekali yang kufikirkan saat ini, Jadi, mohon dimaklumi kalau
ketinggalan
aku jauh ya.”
“Gara-gara
dia makan es, aku jadi kepingin eh pilek deh akhirnya.”
“Ah, ga heran kalau dia dapat peringkat 1
terus.. Belajarnya aja rajin banget. Saya juga bisa dapat peringkat satu kalau saya mau sedikit belajar giat daripada
saat ini.”
Sekarang
pertanyaannya, mengapa kita bertindak demikian? Mengapa kita gemar bersembunyi
di balik alasan dan permakluman? Apa yang menyebabkannya? Adakah dampak sikap tersebut bagi diri kita? Apakah
ada hubungannya dengan keturunan sehingga kita dianggap orang yang
menjengkelkan bagi sekitar kita?
Nah, dalam
tulisan kali ini, kita akan urai mengapa hal tersebut terjadi dan dampaknya bagi diri kita sendiri. Untuk itu,
terus simak tulisan saya ini hingga akhir.
ALL ABOUT STATUS SOSIAL, KETURUNAN DAN AKAL FIKIRAN
Iya, status sosial kita yang dilahirkan dari
orang tua yang berbeda bisa menjadi salah satu faktor penyebab atas sikap kita
seperti itu. Apa itu? Awalnya kita gemar
“ memaklumi dan membenarkan “ jika kita gagal. Tanpa sadar kita sudah membuat
alam bawah sadar menjadi tumpukan “fikiran, pendapat , opini bahkan argument”yang
sudah terbentuk dan itu keliru.
Sebagaimana sesuatu yang serba merasa berikut
ini :
- Merasa bahwa kita sudah cukup mampu sehingga enggan belajar
- Merasa sudah bijaksana sehingga malas untuk meluangkan dan memberikan porsi cukup buat membaca
- Merasa cukup usahanya sehingga gak mau dikoreksi maupun dievaluasi misalnya. Dan banyak lagi “merasa dan merasa.” Bukankah bisa merasa lebih baik dari merasa bisa ya sahabat. Sebagaimana Allah Azza wa Jalla berfirman:
Penjelasannya
:
A. Pertama, manusia itu lemah. “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan
bersifat lemah” (Q.S. Annisa; 28). Jadi sesungguhnya kita itu lemah , harta pangkat dan amanah yang sekarang melekat di pundak
bukalah kebanggaan jika kita tidak mampu menenali dan menggali potensi diri
sehingga yang keluar dari lisan kita adalah kata – kata atau komentar yang
selalu buat “nyesek dada dan bikin kuping hangat – hangat gimana gitu.”
B.
Kedua,
manusia itu tergesa-gesa. "Dan manusia mendoa untuk kejahatan
sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.
(Al-Isra’ 11).
Lakukanlah dengan sepenuh hati, karena akhlak
yang baik itu tidak di wariskan, tidak pula
titisan karena orang tuanya kyai
maka otomatis sang anak akan menjadi kyai. Pinggirkan asas
“suka menduga- duga
dan ilmu jangan – jangan” karena itu akan menyebabkan hatimu keras
dan kita
akan sukses menjadi manusia yang njengkelin. Astagfirlohaladziem.
C. Ketiga manusia itu suka berkeluh-kesah. “Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah” (Q.S Al Ma’arij :
20)
“Manusia tidak
jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi
putus asa lagi
putus harapan.” (Q.S Al-Fushshilat : 20)
“Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya
berpalinglah dia; dan
membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia
ditimpa kesusahan niscaya dia
berputus asa” (al-Isra’ 83)
Kita memohon kepada Allah agar tidak terkena penyakit At Taswif
yaitu penyakit menunda-nunda
melakukan kebaikan yang merupakan salah satu trik Iblis yang paling jitu
menghadang manusia untuk taat dan bertobat kepada Allah Ta’ala. Dan Allah
Azza wa Jalla juga berfirman:
Coba perhatikan ayat berikut:
{يُنَادُونَهُمْ
أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ قَالُوا بَلَى وَلَكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ
وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّى جَاءَ أَمْرُ
اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ } [الحديد: 14]
Artinya: “Orang-orang munafik itu memanggil mereka
(orang-orang mukmin) seraya berkata: "Bukankah kami dahulu bersama-sama
dengan kalian?" Mereka (orang-orang mukmin menjawab: “Iya Benar, tetapi
kalian mencelakakan diri kalian sendiri dan kalian menunggu dan kalian
ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah;
dan kalian telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu.” QS. Al
Hadid
Karena
itulah perlu ditekankan kembali firman Allah dalam surat ar-Ra'du ayat 11:
"... Allah
tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merubah
nasibnya". Juga firman Allah dalam surat al-Anfal ayat 53: " ...
Demikianlah Allah sekali-kali tidak akan merubah kenikmatan yang telah
dikaruniakan pada suatu bangsa, kecuali bangsa itu sendiri yang merubahnya..."
Proses
perubahan sebagaimana yang dijelaskan di atas tidak akan terwujud jika manusia
itu sendiri tidak mau merubahnya. Memang tantangan yang sedang dihadapi
sangatlah berat ibarat berjalan di bukit yang mendaki dan sangat terjal.
Pepatah asing
mengatakan, when the going gets tough, the toughs gets going. Artinya bila
perjalanan makin sulit yang sulit itu pun akan terus bergerak.
Semua pihak dapat menyadari bahwa memiliki keyakinan diri untuk
dapat merubah kondisi bangsa ini sendiri adalah suatu kewajiban bagi seluruh
bangsa Indonesia. Perubahan dari tidak percaya diri menuju percaya diri harus
dimulai dengan mengetahui bagaimana konsepsi diri manusia tersebut yang
sesungguhnya. Jadi yuk mulai saat ini stop mencari-cari alasan ya atas
kegagalan kita karena sejatinya frame dari diri sendiri yang salah dan belum
tepat sehingga seolah – olah semua yang tidak
enak dan nyaman di hati dan perasaan kita bawaannya Baper.
Tips menjaga hati dari sikap menjengkelkan:
1.
Jangan
terlalu banyak alasan untuk memperbaiki diri
2.
Jangan
takut gagal dan dibilang gagal , enjoy aja ya. Langit belum akan runtuh kok
meski kita sudah gagal yang penting adalah bangkit dan bangkit lagi. Thomas
Alfa Edison berkali-kali gagal tapi bisa menjadi orang sukses.(bisa di cari di
mbah google ya).
3.
Turunkan
sedikit standar kita, bijaklah dengan cantik dengan masyarakat (ingat ya bukan
dalam hal akidah ).
4.
Stop
perfeksionis yang berlebihan
5.
Don’t
be shame hanya karena gagal, tapi malu karena tidak menjalakan syariat Islam ,
tidak berhijab bagi yang sudah akil baligh(khusus perempuan lho).
Sikap
menghambat diri sendiri tentu saja menunda kemajuan bahkan keberhasilan kita.
Kita dengan sengaja menghambat diri kita untuk mencapai keberhasilan. Oleh
karena itu, sebagai konsekuensinya, kita pun tidak akan berhasil.Karena dari
penanaman nilai yang salah.
Perhatikan
ilustrasi berikut, misalnya :
Mana
yang lebih lebih memalukan?
Bangga mendapat nilai 80 tapi hasil nyontek dan tidak belajar
Atau
Mendapatkan nilai 80 karena sudah belajar
(proses berusaha dan ikhtiar)
Dampak bagi konsep diri kita adalah :
1. Sikap
pertama menunda kesuksesan.
Selain
menunda kesuksesan, sikap dan bahasa kita terhadap diri sendiri sedikit banyak
akan berimbas kepada orang lain. Selain
juga mendorong kita untuk biasa lepas dari tanggung jawab. Dengan sikap di
atas, kita tidak perlu mengakui kesalahan kita. Kita tidak perlu mengakui
jika kita sudah mengambil strategi maupun cara yang salah.
Nah, karena
kita tidak merasa menempuh strategi yang keliru, maka kita pun merasa tidak
perlu memperbaiki strategi kita. Kita hanya perlu menuding “kemalasan”, “nilai
jelek”, “ sakit pilek” dan “ peringkat ga naik – naik “ sebagai biang kegagalan kita.
2. Sikap kedua ga produktif dengan hal – hal yang baik.
Selain
menunda kesuksesan, sikap dan bahasa kita terhadap diri sendiri sedikit banyak
akan berimbas kepada orang lain. Selain
juga mendorong kita untuk biasa lepas dari tanggung jawab. Dengan sikap di
atas, kita tidak perlu mengakui kesalahan kita. Kita tidak perlu mengakui jika
kita sudah mengambil strategi maupun cara yang salah.
Nah, karena
kita tidak merasa menempuh strategi yang keliru, maka kita pun merasa tidak
perlu memperbaiki strategi kita. Kita hanya perlu menuding “kemalasan”, “nilai
jelek”, “ sakit pilek” dan “ peringkat ga naik – naik “ sebagai biang kegagalan kita.
Karena isi
dalam otak dan hati sudah negatif jadi outputnya negatif deh, bisa jadi sikap
ini dapat menjadi counterproduktif alias menurunkan
produktivitas kita. Mengapa? Dengan sikap ini, kita memiliki pembenaran untuk
menyerah mengejar impian kita
3. Namun yang paling bahaya adalah menyalahkan orang lain
Atas kegagalan kita, musibah
kita, ketidakbahagiaan kita dan lain sebagainya yang negatif ke orang lain, ke benda lain , ke tanaman dan
lain – lainnya. Lantas, bagaimana saat kita menggunakan kelebihan atau keberhasilan
kita di masa lalu untuk menutupi rasa malu kita karena gagal? Kembalilah ke Al Qur’an dan sunnah Rosululloh
SAW,carilah, temukan apa penyebab dari ketidakmapuan olah fikir dan juga olah
rasa tersebut.
Sikap menyalahkan pihak lain
atas kegagalan kita juga membawa dampak yang buruk bagi kita sebab dengan sikap
itu, kita tidak terdorong untuk bertanggung jawab terhadap kesalahan maupun kekeliruan
kita. Lebih jauh, dengan sikap seperti itu, kita menghibur diri kita sendiri
bahwa saat ini, kita tidak lagi perlu membuktikan diri bahwa kita mampu, karena
dulu kita sudah pernah dan telah membuktikan bahwa kita mampu.
Pintu surga Allah SWT itu banyak
sekali lho. Sayang jika disia-siakan begitu saja. Ayo bersegeralah berbuat
kebaikan, jangan menunda – nunda lagi dan keep positif thingking ya agar
selamat dunia akhirat, kita masuki dari arah mana yang mampu dan kuat kita
memasukinya, Jangan patah arang , terus berada di garda terdepan untuk semangat
juang dan inovaioner. Aamiin.
Sebagai penutup bahasan kali ini adalah adanya berbagai
penjelasan tentang segi-segi positif manusia yang terungkap dalam al-Qur'an haruslah
menjadi pengingat diri agar tidak lengah dalam tipu daya syaitan yang lemah.
Jadi marilah kita semua memfokuskan pada sisi positif manusia agar dapat
berpikir positif tentang dirinya dan menjadi pribadi yang percaya diri. Salam
literasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar