Kamis, 24 Mei 2018

BAW#DAY7Tipsjagahati



PART  FOUR, Ramadhan Hari ketujuh
“ Diam adalah suatu kebijaksanaan, tetapi sedikit benar orang yang berbuat demikian." (HR Baihaqy)"







     Pada Suatu kesempatan, siang hari terik menjelang waktu sholat dzuhur sang guru memberikan hasil Penilaian Tengah Semester kepada sang anak yang mendapatkan nilai 40 untuk materi pelajaran yang dia ikuti. Kita simak komentarnya ya:
Ah, wajar, lah, saya dapat 40. Saya lho  ga belajar, semalam ikut ayah nonton sampai jam sebelas malam. Kayaknya enak deh kalau saya belajar, pasti dapat nilai 100.”
Demikian komentar si anak mengenai nilainya.
Sahabat, ada yang seperti itu atau ada kenal orang di sekitar kita ,adek kita mungkin, keponakan kita , anak kita, saudara bahkan orang – orang terdekat juga pernah menyampaikan demikian.
Ilustrasi yang terinspirasi dari keseharian penulis dengan anak – anak sekolah dasar di atas menggambarkan si anak, sebagai orang yang suka bersembunyi di balik alasan.
Why????
Karena sikapnya itu lho, caranya berkomentar itu buat gemezzz. Sang anak memaklumi saja pada dirinya sendiri pantas dan boleh mendapatkan nilai rendah. Astagfirloh.

Eiiits, jangan langsung menyalahkan sang anak ya. IT’S NOT GOOD PERSON.Bijaklah dalam mensikapi apapun yang berlaku atas diri kita maupun orang lain. Kembali lagi ke pokok tadi ya, apanya yang dimaklumin. Ya, sahabat benar bahwa permaklumannya  terletak pada  satu sisi yaitu bahwa ia tidak belajar menjelang ulangan. Dia adalah anak- anak yang jika tidak dengan cepat ditangani akan membawa kejengkelan sepanjang hari bila berinteraksi dengannya karena selalu “blame it or blame somebody”.
Sebagaimana ilustrasi di atas, seringkali, saat mengalami kegagalan, kita, secara tidak sadar, bersembunyi di balik alasan dan permakluman. Kita sering mencari alasan yang memaklumkan atau memaafkan ketidakmampuan kita. Pernah ga seperti itu.
“Aku belum siap dipilih jadi ketua yang lain sajalah.”
“ Tolonglah, banyak sekali yang kufikirkan saat ini, Jadi, mohon dimaklumi kalau ketinggalan
   aku jauh ya.”
Gara-gara dia makan es, aku jadi kepingin eh pilek deh akhirnya.”
 “Ah, ga heran kalau dia dapat peringkat 1 terus.. Belajarnya aja rajin banget. Saya juga bisa dapat peringkat satu  kalau saya mau sedikit belajar giat daripada saat ini.”

Sekarang pertanyaannya, mengapa kita bertindak demikian? Mengapa kita gemar bersembunyi di balik alasan dan permakluman? Apa yang menyebabkannya? Adakah  dampak sikap tersebut bagi diri kita? Apakah ada hubungannya dengan keturunan sehingga kita dianggap orang yang menjengkelkan bagi sekitar kita?
Nah, dalam tulisan kali ini, kita akan urai mengapa hal tersebut terjadi dan  dampaknya bagi diri kita sendiri. Untuk itu, terus simak tulisan saya ini hingga akhir.         

ALL ABOUT STATUS SOSIAL,  KETURUNAN DAN AKAL FIKIRAN
Iya, status sosial kita yang dilahirkan dari orang tua yang berbeda bisa menjadi salah satu faktor penyebab atas sikap kita seperti itu. Apa itu? Awalnya  kita gemar “ memaklumi dan membenarkan “ jika kita gagal. Tanpa sadar kita sudah membuat alam bawah sadar menjadi tumpukan “fikiran, pendapat , opini bahkan argument”yang sudah terbentuk dan itu keliru.
Sebagaimana sesuatu yang serba merasa berikut ini :

  • Merasa bahwa kita sudah cukup mampu sehingga enggan belajar
  • Merasa sudah bijaksana sehingga malas untuk meluangkan dan memberikan porsi cukup buat membaca

  • Merasa cukup usahanya sehingga gak mau dikoreksi maupun  dievaluasi misalnya. Dan banyak lagi “merasa dan merasa.” Bukankah bisa merasa lebih baik dari merasa  bisa ya sahabat. Sebagaimana Allah Azza wa Jalla berfirman:

Penjelasannya :
A.      Pertama, manusia itu lemah.  “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah” (Q.S. Annisa; 28). Jadi sesungguhnya kita itu lemah , harta pangkat dan  amanah yang sekarang melekat di pundak bukalah kebanggaan jika kita tidak mampu menenali dan menggali potensi diri sehingga yang keluar dari lisan kita adalah kata – kata atau komentar yang selalu buat “nyesek dada dan bikin kuping hangat – hangat gimana gitu.”
B.      Kedua, manusia itu tergesa-gesa. "Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (Al-Isra’ 11).
  Lakukanlah dengan sepenuh hati, karena akhlak yang baik itu tidak di wariskan, tidak pula  
  titisan karena orang tuanya kyai maka otomatis sang anak akan menjadi kyai. Pinggirkan asas  
  “suka menduga- duga dan ilmu jangan – jangan” karena itu akan menyebabkan hatimu keras 
  dan kita akan sukses menjadi manusia yang njengkelin. Astagfirlohaladziem.
C.      Ketiga manusia itu suka berkeluh-kesah. “Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah” (Q.S Al Ma’arij : 20)
     “Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi
      putus asa lagi putus harapan.” (Q.S Al-Fushshilat : 20)
“Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan    
 membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia 
 berputus asa” (al-Isra’ 83)
Kita memohon kepada Allah agar tidak terkena penyakit At Taswif yaitu penyakit menunda-nunda melakukan kebaikan yang merupakan salah satu trik Iblis yang paling jitu menghadang manusia untuk taat dan bertobat kepada Allah Ta’ala.  Dan Allah Azza wa Jalla juga  berfirman:

Coba perhatikan ayat berikut:
{يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ قَالُوا بَلَى وَلَكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّى جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ } [الحديد: 14]
 Artinya: “Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: "Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kalian?" Mereka (orang-orang mukmin menjawab: “Iya Benar, tetapi kalian mencelakakan diri kalian sendiri dan kalian menunggu dan kalian ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kalian telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu.” QS. Al Hadid
Karena itulah perlu ditekankan kembali firman Allah dalam surat ar-Ra'du ayat 11:
"... Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merubah nasibnya". Juga firman Allah dalam surat al-Anfal ayat 53: " ... Demikianlah Allah sekali-kali tidak akan merubah kenikmatan yang telah dikaruniakan pada suatu bangsa, kecuali bangsa itu sendiri yang merubahnya..."

Proses perubahan sebagaimana yang dijelaskan di atas tidak akan terwujud jika manusia itu sendiri tidak mau merubahnya. Memang tantangan yang sedang dihadapi sangatlah berat ibarat berjalan di bukit yang mendaki dan sangat terjal.
Pepatah asing mengatakan, when the going gets tough, the toughs gets going. Artinya bila perjalanan makin sulit yang sulit itu pun akan terus bergerak.
Semua pihak dapat menyadari bahwa memiliki keyakinan diri untuk dapat merubah kondisi bangsa ini sendiri adalah suatu kewajiban bagi seluruh bangsa Indonesia. Perubahan dari tidak percaya diri menuju percaya diri harus dimulai dengan mengetahui bagaimana konsepsi diri manusia tersebut yang sesungguhnya. Jadi yuk mulai saat ini stop mencari-cari alasan ya atas kegagalan kita karena sejatinya frame dari diri sendiri yang salah dan belum tepat sehingga seolah – olah semua yang tidak  enak dan nyaman di hati dan perasaan kita bawaannya Baper.

Tips menjaga hati dari sikap menjengkelkan:
1.      Jangan terlalu banyak alasan untuk memperbaiki diri
2.      Jangan takut gagal dan dibilang gagal , enjoy aja ya. Langit belum akan runtuh kok meski kita sudah gagal yang penting adalah bangkit dan bangkit lagi. Thomas Alfa Edison berkali-kali gagal tapi bisa menjadi orang sukses.(bisa di cari di mbah google ya).
3.      Turunkan sedikit standar kita, bijaklah dengan cantik dengan masyarakat (ingat ya bukan dalam hal akidah ).
4.      Stop perfeksionis yang berlebihan
5.      Don’t be shame hanya karena gagal, tapi malu karena tidak menjalakan syariat Islam , tidak berhijab bagi yang sudah akil baligh(khusus perempuan lho).
Sikap menghambat diri sendiri tentu saja menunda kemajuan bahkan keberhasilan kita. Kita dengan sengaja menghambat diri kita untuk mencapai keberhasilan. Oleh karena itu, sebagai konsekuensinya, kita pun tidak akan berhasil.Karena dari penanaman nilai yang salah.

Perhatikan ilustrasi berikut, misalnya : 

                          Mana yang lebih lebih memalukan?
Bangga mendapat nilai  80 tapi hasil nyontek dan tidak belajar
                                                   Atau
Mendapatkan nilai 80 karena sudah belajar (proses berusaha dan ikhtiar)



Dampak bagi konsep diri kita adalah :
1.      Sikap pertama menunda kesuksesan.
Selain menunda kesuksesan, sikap dan bahasa kita terhadap diri sendiri sedikit banyak akan  berimbas kepada orang lain. Selain juga mendorong kita untuk biasa lepas dari tanggung jawab. Dengan sikap di atas, kita tidak perlu mengakui kesalahan kita. Kita tidak perlu mengakui jika kita sudah mengambil strategi maupun cara yang salah.
Nah, karena kita tidak merasa menempuh strategi yang keliru, maka kita pun merasa tidak perlu memperbaiki strategi kita. Kita hanya perlu menuding “kemalasan”, “nilai jelek”, “ sakit pilek” dan “ peringkat ga naik – naik “  sebagai biang kegagalan kita.
2.      Sikap kedua ga produktif dengan hal – hal yang baik.
Selain menunda kesuksesan, sikap dan bahasa kita terhadap diri sendiri sedikit banyak akan  berimbas kepada orang lain. Selain juga mendorong kita untuk biasa lepas dari tanggung jawab. Dengan sikap di atas, kita tidak perlu mengakui kesalahan kita. Kita tidak perlu mengakui jika kita sudah mengambil strategi maupun cara yang salah.
Nah, karena kita tidak merasa menempuh strategi yang keliru, maka kita pun merasa tidak perlu memperbaiki strategi kita. Kita hanya perlu menuding “kemalasan”, “nilai jelek”, “ sakit pilek” dan “ peringkat ga naik – naik “  sebagai biang kegagalan kita.
Karena isi dalam otak dan hati sudah negatif jadi outputnya negatif deh, bisa jadi sikap ini dapat menjadi counterproduktif alias menurunkan produktivitas kita. Mengapa? Dengan sikap ini, kita memiliki pembenaran untuk menyerah mengejar impian kita
3.      Namun yang paling bahaya adalah menyalahkan orang lain
Atas kegagalan kita, musibah kita, ketidakbahagiaan kita dan lain sebagainya yang negatif  ke orang lain, ke benda lain , ke tanaman dan lain – lainnya. Lantas, bagaimana saat kita menggunakan kelebihan atau keberhasilan kita di masa lalu untuk menutupi rasa malu kita karena gagal?  Kembalilah ke Al Qur’an dan sunnah Rosululloh SAW,carilah, temukan apa penyebab dari ketidakmapuan olah fikir dan juga olah rasa tersebut.
Sikap menyalahkan pihak lain atas kegagalan kita juga membawa dampak yang buruk bagi kita sebab dengan sikap itu, kita tidak terdorong untuk bertanggung jawab terhadap kesalahan maupun kekeliruan kita. Lebih jauh, dengan sikap seperti itu, kita menghibur diri kita sendiri bahwa saat ini, kita tidak lagi perlu membuktikan diri bahwa kita mampu, karena dulu kita sudah pernah dan telah membuktikan bahwa kita mampu.
Pintu surga Allah SWT itu banyak sekali lho. Sayang jika disia-siakan begitu saja. Ayo bersegeralah berbuat kebaikan, jangan menunda – nunda lagi dan keep positif thingking ya agar selamat dunia akhirat, kita masuki dari arah mana yang mampu dan kuat kita memasukinya, Jangan patah arang , terus berada di garda terdepan untuk semangat juang dan inovaioner. Aamiin.
Sebagai penutup bahasan kali ini adalah adanya berbagai penjelasan tentang segi-segi positif manusia yang terungkap dalam al-Qur'an haruslah menjadi pengingat diri agar tidak lengah dalam tipu daya syaitan yang lemah. Jadi marilah kita semua memfokuskan pada sisi positif manusia agar dapat berpikir positif tentang dirinya dan menjadi pribadi yang percaya diri. Salam literasi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel 9 Let Go