PART Five, Ramadhan Hari
kelimabelas
Muhasabah
1. Indahnya ikhtiar intens interaksi dengan al qur’an
Sebagai manusia kita diberikan akal pikiran guna membedakan
mana yang haq dan bathil. Dalam setiap usaha dalam memperbaiki kualitas hidup
kita dibutuhkan sebuah ikhtiar yaitu usaha manusia untuk memenuhi
kebutuhan dalam hidupnya, baik material, spiritual, kesehatan, dan masa
depannya dengan tujuan hidupnya selamat sejahtera dunia dan akhirat terpenuhi.
Ikhtiar juga dilakukan dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati, dan semaksimal
mungkin sesuai dengan kemampuan dan keterampilannya. Akan tetapi, jika usaha
kita gagal, hendaknya kita tidak mudah berputus asa.Rahmat Allah itu luaassss
sekali sahabat. Jadi jangan pernah meragukan apalagi mempertanyakan kembali apa
ya yang bisa di buat kehidupan untuk kita. Waduh salah kaprah itu pendapatnya.
Sekali lagi tugas kita adalah berjuang rajin tilawah al qur’an akan melembutkan
hati nggak mudah baper, jutek apalagi marah. Kelak alqur’an yang akan memayungi
kita dalam rupa manusia gagah perkasa atau bidadari cantik jelita bagi kita.
Allah
memerintahkan kita untuk terus berusaha memberikan yang terbaik. Di manapun
kita berada dan kapan pun waktunya. Manusia terbaik adalah yang terus bergerak,
memanfaatkan setiap potensi yang dia miliki untuk kehidupannya. Keseimbangan
hidup di dunia dan akhirat haruslah diupayakan, sebagaimana yang sering
kita dengar: “Berbuatlah untuk duniamu seolah kamu hidup
selamanya, dan berbuatlah untuk akhiratmu, seolah kamu mati esok hari”.
2. Untuk
mencapai kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat, kita perlu berusaha dan
berupaya atau dengan kata lain, ber-ikhtiar, sebanyak yang kita
mampu. Setelah semua ikhtiar kita lakukan, maka saatnyalah kita serahkan semua
keputusan kepada Sang Penguasa Hidup,
Allah SW. Mudah kan, gitu aja kok repot. Lho siapa yang repot? Kita, kamu dan hampir semua manusia merasa
bahwa keadilan Allah itu terletak jika kita hanya diberikan kenyamanan,
kemudahan, kesehatan nggak pernah sakit padahal kita tidak akan diuji melainkan
sesuai dengan kemampuan kita. Jadilah be wise atau bijak dalam tindakan
dan pemikiran jangan mudah terpancing emosi sesaat apalagi pikiran yang sesat.
3. Kedua
adalah Tawakal
atau penyerahan diri totalitas kepada Allah saja.Secara definitif, tawakal
berarti penyandaran, penyerahan dan mempercayakan suatu perkara kepada pihak
lain. Seorang muslim yang tawakal adalah yang menyerahkan, menyandarkan dan
mempercayakan kepada Allah SWT atas segala yang sudah dilakukannya.
Dari
definisi tersebut dapat dipahami bahwa tawakal erat kaitannya dengan usaha atau
ikhtiar. Jadi ada hubungannya kan. Remember sahabat bahwa tawakal tidak
sama dengan pasrah. Tawakal adalah sebuah tindakan aktif, sementara
pasrah adalah tindakan pasif. Pasrah adalah seperti daging yang teronggok di
atas meja, siap diolah apa saja oleh pemiliknya. Tawakal sama sekali tidak
seperti itu. Tawakal mensyaratkan adanya upaya kreatif dari pelakunya. Ayo mau
pilih yang mana. Menjadi tawakkal atau menjadi pasrah. Sahabat yang menentukannya.
Dalam
Al-Quran, ada banyak ayat yang berbicara mengenai tawakal ini, setidaknya, ada
70 ayat. Di antara ayat-ayat tersebut adalah QS. Ali ‘Imran/3 ayat 159, yang
berbunyi:
فَإِذَا
عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِين
(Fa idza ‘azamta fatawakkal ‘alallahi
innallaha yuhibbul mutawakkilin)
Artinya:
Apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
Ayat
tersebut menjelaskan bahwa tawakal dilakukan setelah kita berikhtiar melakukan
yang terbaik sebanyak yang kita sanggup lakukan. Sahabat tawakal ini bukan
perkara mudah, tidak hanya perbuatan bibir saja tetapi ini amalan hati. Hanya
Allah yang tahu tanpa orang sekitar kita tahu kecuali dengan perilaku dan
akhlak yang kita munculkan.
Ciri
orang yang benar-benar bertawakal adalah :
1)
Selalu ingat Allah dengan berdoa sebelum dan sesudah berusaha atau ikhtiar
2)
Meraih hasil dengan usaha yang benar dan jujur
3)
Bersyukur dengan hasil yang didapat ( kan sudah ridha)
4)
Selalu introspeksi (muhasabah), menjauh dari sikap
menyalahkan orang lain atau bahkan berprasangka buruk kepada Allah sang penentu
hasil.
Sahabat,
dibawah ini adalah beberapa langkah-langkah dalam bertawakal dengan
sebenar-benarnya.
Pertama,
Harapan itu masih ada TOTALITAS HANYA pada Allah
Tidak
pernah PHP(pemberi harapan palsu) sebagaimana makhluknya yakni manusia.
Totalitas Allah semata, dengan mengikhlaskan/meluruskan niat amalan hanya
kepada Dzat yang maha menepati harapan. Dan tempat dari hal ini berada di top
score karena dia ada di awal perbuatan, selama perbuatan, dan pada akhir segala
perbuatan.
Ada kata
– kata bijak “The higher your expectation is, the more pain
you’ll get“, semakin besar rasa pengharapanmu, maka akan semakin
besar pula rasa sakit yang akan kau dapat. Dan jika kita menggantungkan
pengharapan kepada mahluk yang bernama manusia, maka bersiap-siaplah untuk
mengalami rasa kecewa, sebab manusia adalah tempatnya khilaf dan salah. Ayo angkat
dan tunjuk jari siapa yang tidak punya dosa.
اللَّهُالصَّمَدُ
Allah
adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (QS. Al Ikhlas: 2)
Kedua, Tanamkan
niat di hati untuk selalu BERSYUKUR
Sunnatulloh
sahabat jika kita memang tidak pernah bisa mendapatkan setiap hal yang kita
inginkan, namun kita akan selalu bisa mensyukuri setiap hal yang kita dapatkan.
Dengan bersyukur, kita telah menjadi pribadi yang bermental positif, karena
yakin bahwa Allah pasti memberi hal yang terbaik.
Bukankah
Allah teramat sayang kepada hamba-hambaNya?
dan bukankah ia pasti kan memberikan segala yang terbaik untuk hamba-hambaNya?
Dan bukankah kita yakin bahwa Allah maha menepati janji?
dan bukankah ia pasti kan memberikan segala yang terbaik untuk hamba-hambaNya?
Dan bukankah kita yakin bahwa Allah maha menepati janji?
Dengan
bersyukur, kita bisa melihat kebaikan dari segala sesuatu. Karena bisa jadi,
hal yang menurut kita mengecewakan merupakan suatu hal yang terbaik untuk kita.
Dan belum tentu, apa yang kita harapkan, merupakan hal yang baik bagi kita.
Allah Maha Mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya.
Ketiga, selalu
berperilaku SABAR
Jika hal
yang menimpa diri kita berupa musibah kesusahan yang akhirnya akan menggoreskan
kekecewaan dalam diri, maka sebagai seorang muslim, kita diwajibkan untuk
bersabar.
عَنْصُهَيْبِالرُّوْمِيِّرضقَالَ: قَالَرَسُوْلُاللهِص: عَجَبًاِلاَمْرِاْلمُؤْمِنِ،اِنَّاَمْرَهُلَهُكُلَّهُخَيْرٌ،وَلَيْسَذلِكَِلاَحَدٍاِلاَّلِلْمُؤْمِنِ.
اِنْاَصَابَتْهُسَرَّاءُشَكَرَفَكَانَخَيْرًالَهُ.
وَاِنْاَصَابَتْهُضَرَّاءُصَبَرَ،فَكَانَخَيْرًالَهُ.
مسلم
Dari
Shuhaib Ar-Rumiy RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh mengagumkan
urusannya orang mukmin itu, semua urusannya menjadi kebaikan
untuknya, dan tidak didapati yang demikian itu
kecuali pada orang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka
yang demikian itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila dia ditimpa kesusahan
ia bershabar, maka
yang demikian itu pun menjadi kebaikan baginya”. [HR. Muslim]
Sabar
bukan berarti hal yang pasif saja, sabar juga bersifat proaktif. Karena sabar
terdiri dari tiga hal, sabar dalam menghadapi MUSIBAH, sabar dalam mengerjakan
KEBAIKAN, dan sabar dalam menahan diri dari mengerjakan perbuatan MAKSIAT.
Jangan pernah menangisi nasi yang telah menjadi bubur, namun berilah ia bumbu,
kecap, kacang, dan kerupuk, agar bisa menjadi bubur yang lezat. Dan sungguh,
kesabaran hanya akan menambahkan pahala kebaikan pada diri kita.
”Seorang
hamba yang ditimpa musibah, lalu mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi
raji’un, llahumma’jurni fi mushibati wa ahlif li khairan minha (sesungguhnya
kita milik Allah dan kepada-Nyalah kita dikembalikan. Ya Allah, berilah aku
ganjaran dalam musibahku ini dan berilah ganti kepadaku dengan yang lebih baik
darinya), niscaya Allah akan memberi ganjaran padanya dalam musibahnya dan akan
menggantikan dengan yang lebih baik darinya.” (HR Muslim).
Keempat,
Tak pernah putus untuk Perbaikan diri (Muhasabah)
Manusia
adalah ciptaan Allah paling sempurna dari makhluk lain. Tetapi manusia juga
ditakdirkan berpotensi melakukan kesalahan. Baik karena ketidaktahuan atau dosa
kesengajaan. Seorang Muslim yang bertaqwa akan selalu introspeksi yang intinya
adalah mengganti keburukan yang telah lampau dan menambah kebaikan-kebaikan
yang sudah dilakukan.
يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُوااتَّقُوااللَّهَوَلْتَنْظُرْنَفْسٌمَاقَدَّمَتْلِغَدٍوَاتَّقُوااللَّهَإِنَّاللَّهَخَبِيرٌبِمَاتَعْمَلُونَ
Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan
bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan. (QS.Al-Hasyr
[59]:18).
Allah
berikan nikmat tidak sesuai harapan, bisa jadi karena kurang maksimal dalam
usaha atau sebagai bentuk ujian peringatan Allah. Allah berikan nikmat yang
sesuai harapan atau berlebih, maka Allah menunggu apa yang akan dilakukan
dengan hasil itu.
InsyaAllah
jika kita selalu introspeksi maka kita akan termasuk orang-orang yang selalu
meningkatkan kualitas iman, selalu berpikir positip kepada Allah dan pantang
untuk putus asa. Kita berdo’a kepada Alloh agar dikuatkan dan dimudahkan dalam
bertawakal kepada-Nya.
Rangkuman
dari ketiganya adalah Sabar merupakan kemampuan menunda kesenangan, dan
menjalani yang ada dengan penuh ketekunan. Syukur adalah kemampuan
menerima yang ada sebagai yang terbaik dari Allah, dan yakin bahwa Allah tidak
mungkin salah dalam menempatkan hambanya.Ikhlas adalah kemampuan
menjalankan yang ada tanpa perlu pujian dari manusia, murni mengharapkan ridha
Allah.
Semoga
hari ini diberikan keberkahan yang melimah ya sahabat.
Wallohu
a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar